Jejak Komentar Pep Guardiola soal Kasus Manchester City

Pep Guardiola akhirnya angkat bicara soal kasus Manchester City yang berujung pada vonis bersalah karena sengaja melanggar aturan keuangan selama sembilan tahun. Mantan manajer City itu tidak memilih jalur konferensi pers yang dulu ia janjikan, melainkan menyampaikan pesannya lewat unggahan di media sosial. “Biarkan saya perjelas: kita akan melewati ini bersama. Saya mencintai kalian semua,” tulisnya pekan lalu.

Respons tersebut terasa penting karena Guardiola sudah tidak lagi menangani tim sejak meninggalkan Etihad Stadium pada musim panas lalu, sehingga tidak ada kewajiban bagi dirinya untuk berbicara di depan publik. Meski begitu, ia masih tercatat sebagai duta global di City Football Group, perusahaan pemilik klub. Selama bertahun-tahun ia adalah pembela paling vokal bagi City setiap kali tuduhan pelanggaran aturan muncul, dan karena itulah setiap katanya soal kasus Manchester City selalu dinanti banyak pihak.

Pep Guardiola Pep Guardiola

Vonis Bersalah dan Respons Terbaru Guardiola

Manchester City dinyatakan bersalah atas pelanggaran aturan keuangan yang dilakukan secara sengaja selama sembilan tahun, dalam periode yang berkaitan dengan rentang 2009 hingga 2018. Guardiola sendiri baru bergabung pada 2016, artinya ia melewati sebagian besar periode yang menjadi dasar dakwaan tersebut. Klub saat ini sedang mengajukan banding atas putusan itu.

Unggahan media sosial Guardiola berisi foto-foto dirinya saat mengangkat trofi dan berpose bersama sejumlah figur penting di jajaran kepemilikan klub, termasuk chairman Khaldoon Al Mubarak dan CEO Ferran Soriano. Menariknya, tidak ada foto pemain dalam unggahan tersebut. Kalimat solidaritas yang ia sampaikan dibaca banyak penggemar sebagai bentuk dukungan di tengah tekanan yang sedang dihadapi manajemen.

Menurut jadwal, Guardiola diperkirakan hadir menyaksikan laga Liga Champions City melawan Paris St-Germain pekan depan. Pertandingan itu menjadi laga kandang pertama City sejak vonis bersalah diumumkan, sehingga perhatian publik dipastikan tertuju pada suasana di stadion. Sampai saat ini belum ada pengumuman resmi soal konferensi pers yang pernah ia janjikan.

Sebelum Dakwaan Premier League: Pembelaan Pertama

Komentar pertama Guardiola soal dugaan pelanggaran aturan keuangan muncul dengan nada marah pada 18 Mei 2019, sesaat setelah City menang 6-0 atas Watford di final Piala FA. Dalam konferensi pers itu, ia ditanya oleh jurnalis Sky News, Rob Harris, apakah ia pernah menerima pembayaran terpisah dan tidak dideklarasikan dari klub di luar gaji kontraknya. Pertanyaan itu muncul setelah situs Football Leaks mempublikasikan informasi hasil peretasan yang menyebut mantan manajer Roberto Mancini dibayar dengan cara serupa.

Guardiola jelas menganggap pertanyaan tersebut sebagai serangan terhadap integritas pribadinya. “Apakah saya menerima uang untuk situasi lain, saat ini, hari ini? Jujur saja, apakah Anda menganggap saya layak mendapat pertanyaan seperti ini di hari kami menang treble? Apakah Anda menuduh saya menerima uang?” ujarnya saat itu. Ia kemudian menegaskan bahwa dirinya percaya penuh pada chairman dan CEO klub.

“Saya mendengarkan chairman dan CEO saya, dan saya percaya mereka. Mereka mengatakan kami berlaku adil dan benar-benar mengikuti aturan. Saya percaya mereka,” kata Guardiola. Sementara itu, Mancini sendiri menyatakan bahwa persoalan dugaan kontrak ganda tersebut bukan urusannya dan menegaskan Manchester City belum dinyatakan bersalah.

Era Sanksi UEFA dan Keyakinan pada Hierarki Klub

Pada 19 Februari 2020, UEFA menyatakan City bersalah melanggar aturan Financial Fair Play dan melarang klub tampil di kompetisi Eropa selama dua tahun. Guardiola merespons dengan sikap menantang. “Kami mengajukan banding. Ketika seseorang yakin dirinya benar, ia harus berjuang. Klub harus berjuang dan saya mempercayai klub 100% atas apa yang telah mereka lakukan dan jelaskan kepada saya,” tuturnya.

Harapan itu terwujud pada 14 Juli 2020 ketika Court of Arbitration for Sport (CAS) mencabut larangan UEFA dan membebaskan City dari tuduhan yang lebih serius. Dalam sejumlah kasus, tuduhan dinilai tidak terbukti atau sudah terlalu lama berlalu sejak dugaan pelanggaran terjadi. Guardiola menyayangkan cara dunia sepak bola memperlakukan klubnya. “Kami dirugikan. Orang-orang mengatakan kami curang dan berbohong, berkali-kali. Praduga tak bersalah tidak ada,” ucapnya.

Pada 7 Mei 2022, Guardiola menjelaskan alasan di balik pembelaannya yang konsisten terhadap manajemen klub. Ia mengaku selalu meminta penjelasan langsung kepada pihak klub setiap kali muncul tuduhan, lalu memutuskan untuk memercayai mereka. Ia bahkan menyatakan akan meninggalkan jabatannya jika terbukti dibohongi. “Jika kalian berbohong kepada saya, besoknya saya tidak ada di sini. Saya akan keluar dan tidak lagi menjadi teman kalian,” tegasnya.

Merespons 115 Dakwaan: Frustrasi dan Janji

Premier League mengumumkan 115 dakwaan terhadap City pada awal Februari 2023, dan Guardiola memberi respons dalam konferensi pers yang berlangsung sangat tegang. Ia menilai klubnya sudah dihukum oleh opini publik sebelum proses hukum berjalan. “Pikiran pertama saya adalah kami sudah divonis. Saya sepenuhnya yakin kami tidak bersalah,” katanya. Ia juga menyebut timnya punya pengacara yang baik, begitu pula Premier League yang didukung 19 klub lain.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya 23 Mei 2023, Guardiola mulai menunjukkan kejengkelan terhadap panjangnya proses investigasi. Ia berharap vonis bisa keluar secepat mungkin. “Kami akan sangat senang jika vonisnya keluar besok, siang ini bahkan lebih baik daripada besok. Apa yang kami menangi di lapangan, kami tidak punya keraguan soal itu,” ujarnya.

Pada 24 November 2023, Guardiola menyampaikan dua janji penting. Pertama, ia akan menggelar konferensi pers untuk menjelaskan hasil vonis begitu putusan keluar. Kedua, ia menyatakan lebih besar kemungkinannya bertahan melatih City di League One ketimbang di Liga Champions jika hukuman degradasi benar-benar dijatuhkan. Kepergiannya pada musim panas lalu membuat janji kedua itu tidak pernah bisa dibuktikan.

Menanti Vonis hingga Meninggalkan City

Memasuki 2024, Guardiola kembali menegaskan keinginannya agar proses hukum cepat selesai. “Saya senang prosesnya segera dimulai dan semoga cepat berakhir. Kami akan menerima vonisnya, seperti yang selalu kami lakukan,” katanya pada 23 Agustus 2024. Saat sidang dimulai pada September 2024, ia melontarkan pernyataan yang paling tajam, bahwa publik bukan hanya berharap City terdegradasi, tetapi juga ingin klub itu hilang dari muka bumi.

Pada 7 Februari 2025, Guardiola memperkirakan vonis akan keluar dalam waktu satu bulan. Sejumlah briefing saat itu memang mengindikasikan hal serupa. Kenyataannya, putusan baru keluar jauh lebih lama dari perkiraan tersebut, dan panel komisi independen pun menyatakan frustrasinya sendiri atas lamanya proses ketika akhirnya mempublikasikan temuan mereka pekan lalu.

Ketika meninggalkan Manchester City, Guardiola sekali lagi menegaskan kepercayaannya pada klub dan orang-orang di dalamnya. Ia juga mengulang janji soal konferensi pers dengan nada bercanda, bahwa wartawan boleh mencarinya jika mampu. Hingga kini tidak ada konferensi pers yang diumumkan, dan satu-satunya pernyataan resmi setelah vonis adalah unggahan media sosial pekan lalu.

Arti Semua Ini bagi Guardiola dan Manchester City

Bagi Guardiola, rangkaian pernyataan selama bertahun-tahun ini menjadi bagian penting dari cara publik menilai warisannya. Kesuksesannya di lapangan tidak terbantahkan, tetapi ia kini dikenang juga sebagai sosok yang memilih berdiri di sisi manajemen klub ketika klub itu menghadapi tuduhan paling serius dalam sejarahnya. Penggemar City kemungkinan besar memandang sikap itu sebagai bentuk loyalitas, sementara sebagian pengamat menilainya sebagai pembelaan yang terlalu jauh.

Bagi klub, vonis bersalah berarti proses banding menjadi taruhan besar. Sejumlah klub rival dikabarkan menginginkan beragam bentuk hukuman dijatuhkan, sehingga tekanan tidak hanya datang dari otoritas liga. Sementara itu, kehadiran Guardiola di laga kontra Paris St-Germain pekan depan akan menjadi ujian tersendiri, apakah kepergiannya dan vonis tersebut mengubah atmosfer di Etihad Stadium.

Di tingkat yang lebih luas, kasus ini memperlihatkan betapa panjang dan rumitnya penegakan aturan keuangan di sepak bola Inggris. Proses yang memakan waktu lebih dari tiga setengah tahun sejak dakwaan diajukan menimbulkan pertanyaan soal efisiensi sistem, baik di mata klub yang dituduh maupun pihak yang menuntut keadilan. Dampak keputusannya pun berpotensi menjadi preseden bagi kasus-kasus serupa di masa mendatang.

Konteks Lebih Luas: Konsistensi dan Batasnya

Selama di Manchester, Guardiola dikenal sebagai sosok yang tidak ragu bersuara soal isu di luar sepak bola, termasuk kemerdekaan Katalonia dan serangan militer Israel di Gaza. Namun, pada beberapa kesempatan ia menghindari pertanyaan soal hak asasi manusia di Uni Emirat Arab, negara yang pemerintahannya mencakup sejumlah tokoh penting dalam hierarki City. Ia juga tidak menyinggung dugaan keterlibatan UEA dalam konflik di Sudan, tuduhan yang dibantah keras oleh negara tersebut.

Pola itu menunjukkan bahwa keberanian Guardiola dalam bersuara memiliki batas yang ia tentukan sendiri. Pembelaannya terhadap Manchester City berjalan seiring dengan keengganannya menyentuh isu yang berkaitan langsung dengan pemilik klub. Hal ini membuat pertanyaan soal independensi dan posisinya sebagai duta global City Football Group tetap menarik untuk dicermati.

Yang perlu ditunggu berikutnya adalah hasil banding City, yang akan menentukan bentuk sanksi akhir bagi klub. Guardiola kemungkinan tetap menjadi figur yang dicari media setiap kali ada perkembangan baru, meski ia sudah tidak lagi duduk di kursi manajer. Jika janji lamanya ditepati, sebuah konferensi pers bisa saja muncul, tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda ke arah sana.

Kesimpulan

Dari 2019 hingga vonis bersalah diumumkan, Guardiola konsisten membela Manchester City dan memercayai penjelasan pihak klub. Ia beberapa kali menjanjikan transparansi lewat konferensi pers, namun yang akhirnya muncul adalah pesan singkat di media sosial. Unggahan itu memuat foto bersama para petinggi klub dan kalimat solidaritas, bukan penjelasan panjang soal proses hukum yang berjalan.

Terlepas dari penilaian masing-masing orang, rangkaian pernyataan tersebut kini menjadi bagian tak terpisahkan dari catatan sejarah kasus Manchester City. Publik tinggal menunggu babak berikutnya, yaitu hasil banding dan bagaimana sosok yang pernah berjanji akan selalu menjelaskan kepada wartawan itu menepati ucapannya.