Derby Southampton vs Portsmouth kembali tersaji di St Mary’s pada Minggu pukul 12.00 waktu setempat, dan kali ini kubu tuan rumah bisa menyambutnya dengan jauh lebih tenang. Penyebabnya adalah keputusan FA yang menangguhkan hukuman larangan mendampingi tim terhadap pelatih kepala Southampton, Tonda Eckert, sehingga ia tetap boleh berdiri di area teknis. Momen ini menjadi titik balik penting setelah musim lalu kedua rival bebuyutan itu dua kali bertemu di liga tanpa menghasilkan satu pun pemenang.
Laga bertajuk south coast derby ini bukan sekadar pertandingan biasa bagi warga Hampshire. Kedua klub jarang bertemu karena terpisah kasta selama bertahun-tahun, sehingga setiap pertemuan selalu terasa seperti peristiwa besar. Ditambah lagi, tidak ada satu pun laga liga antara keduanya yang berakhir dengan kemenangan salah satu pihak sejak 2005. Dengan latar belakang itu, pertemuan akhir pekan ini berpotensi menjadi salah satu derby paling panas dalam beberapa tahun terakhir.


Keputusan soal Tonda Eckert Jadi Suntikan Semangat Southampton
Hari-hari menjelang derby kali ini terasa berbeda dari biasanya. Alih-alih sibuk membahas taktik atau susunan pemain, seluruh pihak yang terkait dengan Southampton justru menunggu kepastian nasib pelatih kepala mereka. Ketegangan itu berakhir pada Rabu, ketika FA mengumumkan bahwa Tonda Eckert dijatuhi sanksi larangan enam pekan yang statusnya ditangguhkan, plus denda sebesar £28.000, akibat keterlibatannya dalam skandal Spygate. Konsekuensi paling penting dari putusan tersebut adalah ia tetap bisa mendampingi tim pada laga Minggu di St Mary’s dan laga-laga berikutnya.
Beberapa menit setelah pengumuman itu keluar, akun media sosial Southampton mengunggah video Eckert yang sedang bersorak bersama para pendukung. Unggahan tersebut seolah menjadi sinyal bahwa badai di internal klub sudah lewat. Southampton pun menutup musim lalu dengan bayang-bayang Spygate yang mendominasi pemberitaan, tepat setelah Portsmouth memastikan diri bertahan sebagai klub Championship.
Mantan penyerang Southampton, James Beattie, menilai kabar tersebut akan berdampak langsung pada psikologi para pemain. “Saya pikir kabar ini akan menjadi suntikan semangat kecil bagi mereka sebelum derby,” ujarnya. Menurut Beattie, sebagai pemain hal seperti itu berarti satu beban berkurang dan membuat mereka lebih bebas berkonsentrasi ke pertandingan. Ia menambahkan bahwa para pemain tetaplah manusia yang pasti sempat terusik oleh situasi tersebut, sehingga keputusan yang datang tepat waktu ini diharapkan membuat mereka tampil maksimal di St Mary’s.
Meski laga musim lalu berjalan kurang berkualitas, atmosfernya tercatat luar biasa panas dan penuh permusuhan. Para pendukung Portsmouth kini punya bahan ejekan baru terkait kasus tersebut, tetapi suporter Southampton bisa membalas dengan aman karena tahu pelatih mereka tidak akan pergi dalam waktu dekat.
Penantian Pahit: Tak Ada Pemenang Liga Sejak 2005
Salah satu hal yang membuat derby ini begitu membara adalah betapa jarangnya kedua tim bertemu. Sejak 1996, mereka hanya bersua 12 kali di semua kompetisi, dan delapan di antaranya merupakan laga Premier League atau Championship. Kelangkaan pertemuan itulah yang membuat setiap duel terasa istimewa dan selalu dinanti.
Terakhir kali salah satu tim menang di laga liga terjadi pada 2005, ketika Pompey menggulung Southampton 4-1 di Fratton Park. Pada laga itu, Lomana LuaLua memenangkan penalti sekaligus mencetak dua gol dalam waktu kurang dari setengah jam, sebuah hari yang dikenang abadi oleh pendukung kubu biru Hampshire. Sejak itu, empat laga liga berikutnya semuanya berakhir imbang, ditambah kemenangan Portsmouth di FA Cup 2010 dan kemenangan meyakinkan Southampton di ajang League Cup 2019.
Derby musim lalu menjadi pertemuan liga pertama sejak 2012, dan antusiasmenya benar-benar terasa. Laga pertama di St Mary’s berjalan datar dan berakhir tanpa gol, tetapi pertemuan di Fratton Park jauh lebih hidup. Leo Scienza mencetak gol lalu berlari sepanjang lapangan untuk merayakannya di depan pendukung Southampton, sebelum Ebou Adams menyamakan kedudukan lewat sundulan di akhir laga dan melakukan selebrasi serupa ke arah tribun Fratton End. Hasil itu membuat rasa frustrasi karena tak kunjung ada pemenang terbawa hingga musim ini.
Lagu-lagu sindiran terhadap kubu lawan sudah menjadi bagian rutin dari repertoar suporter setiap pekan. Ketika kedua tim akhirnya bertemu, para pendukung pun mendapat kesempatan melampiaskan ejekan itu secara langsung, dan besarnya tensi di lapangan biasanya mengikuti besarnya tensi di tribun.
Dampak Belanja Besar Portsmouth Musim Panas Ini
Musim panas lalu menjadi periode yang signifikan bagi Portsmouth. Manajer John Mousinho bersama direktur olahraga Rich Hughes bekerja dengan anggaran transfer yang jauh lebih besar dibanding musim-musim sebelumnya. Total pengeluaran Pompey menembus angka £10 juta, sebuah lompatan besar bagi klub yang sebelumnya sangat berhati-hati dalam berbelanja.
Selama kurang lebih 15 tahun, Portsmouth tidak pernah mengeluarkan dana lebih dari £1,5 juta untuk satu pemain. Kebiasaan itu patah musim panas ini ketika ambang tersebut dilewati empat kali sekaligus, yakni untuk penyerang Marko Milovanovic dan Tyrese Shade, winger Abu Kamara, serta gelandang Rocco Shein. Besarnya investasi itu menandakan ambisi baru klub untuk bersaing di level yang lebih tinggi.
Sejauh ini, hasilnya belum sepenuhnya konsisten. Milovanovic sempat tampil mengesankan dalam beberapa momen, tetapi kerap terganggu masalah kebugaran dan tidak bermain dalam dua laga terakhir Portsmouth. Pemain setinggi 198 cm itu sudah mencetak dua gol di Championship musim ini dan, ketika bugar, tampaknya menjadi pilihan utama Mousinho di lini depan. Sementara itu, Shein langsung memperlihatkan kualitasnya saat debut di London Stadium pada babak pertama laga EFL Cup melawan West Ham, dan sejak itu selalu tampil di tujuh laga liga dengan posisi gelandang yang lebih dalam, umumnya berdampingan dengan kapten Marlon Pack.
Kamara dan Shade sama-sama menunjukkan potensi, tetapi belum benar-benar membuat pernyataan besar di lapangan musim ini. Keduanya baru mencatatkan satu assist sejak bergabung, sehingga publik Fratton Park masih menantikan kontribusi yang lebih nyata dari mereka.
Ryan Kavuma-McQueen, Pemain Pinjaman yang Mencuri Perhatian
Di luar para pemain permanen, satu sosok yang paling menarik perhatian adalah Ryan Kavuma-McQueen, pemain pinjaman dari Chelsea. Meski baru berusia 17 tahun, winger itu sudah membuktikan bahwa ia siap bersaing di level Championship dengan torehan satu gol dan satu assist musim ini. Pada awal September, ia mengalami fraktur ganda di tangan kanan, tetapi memilih tidak menjalani operasi agar tetap bisa bermain dengan penyangga di lengannya, sebuah keputusan yang memperpanjang masa pemulihannya.
Sikap tersebut tampaknya membuat Mousinho terkesan. Ia menyebut Kavuma-McQueen sebagai pemain sekaligus pribadi yang “memenuhi semua kriteria” yang dicarinya.
Bagaimana Cara Menghentikan Finn Azaz dan Leo Scienza?
Southampton memulai musim ini dengan performa impresif, terutama di kandang. Mereka menyapu bersih empat kemenangan dari empat laga di St Mary’s dengan total 15 gol, sebuah catatan yang membuat lawan mana pun wajib waspada. Southampton sempat memulai musim dari posisi minus empat poin, namun kini telah mengumpulkan 10 poin dari delapan pertandingan. Kemenangan meyakinkan atas Stoke City, Millwall, Swansea, dan Bristol City menjadi bukti ketajaman mereka di hadapan pendukung sendiri.
Di balik derasnya gol tersebut, peran Finn Azaz dan Leo Scienza sangat besar, berdampingan dengan Cyle Larin yang menjadi top scorer divisi. Penyerang timnas Kanada itu jelas ancaman utama, tetapi cara paling efektif bagi Portsmouth untuk meredamnya adalah dengan memutus atau setidaknya membatasi pasokan bola ke arahnya.
Azaz tampil menonjol dengan tiga gol dan lima assist dalam delapan laga Championship. Pemain berusia 26 tahun itu berkembang menjadi salah satu penyerang terpenting Southampton, sekaligus salah satu gelandang serang terbaik di divisi ini, sejak didatangkan dari Middlesbrough pada musim panas 2025. Ia biasanya mengisi posisi nomor 10 dalam formasi 4-2-3-1 milik Eckert, tepat di belakang striker dan di antara kedua winger. Azaz juga yang memberi assist untuk gol pembuka Southampton di Fratton Park musim lalu, dan ia berharap bisa menorehkan dampak serupa pada Minggu.
Scienza tetap terlihat berbahaya setelah musim terobosannya, ketika ia dinobatkan sebagai pemain terbaik Southampton dengan 17 kontribusi gol di Championship. Portsmouth sendiri baru mencatatkan dua clean sheet dari tujuh laga liga musim ini, sehingga lini belakang mereka dituntut tampil dalam performa terbaik jika ingin menahan gempuran tuan rumah.
Atmosfer Panas dan Taruhan Besar di Championship
Intensitas derby ini bertumpu pada sesuatu yang sederhana: kedua tim nyaris tidak pernah bertemu. Karena itu, setiap pertemuan terasa seperti kesempatan langka yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin, baik di lapangan maupun di tribun. Ketika frekuensi pertemuan rendah, tensi emosional justru menumpuk dan meledak dalam satu momen.
Rasa frustrasi karena tidak ada pemenang di laga liga selama bertahun-tahun kini menjadi bahan bakar tambahan. Para pendukung Portsmouth datang dengan amunisi verbal baru seputar kasus Spygate, sementara suporter Southampton bisa membalas dengan tenang karena pelatih mereka dipastikan tetap mendampingi tim. Kombinasi itu menjadikan laga Minggu sebagai salah satu pertemuan paling menarik untuk disaksikan, bukan hanya dari sisi taktik, tetapi juga dari sisi drama di sekelilingnya.
Dari kacamata klasemen, kedua tim juga punya kepentingan berbeda. Southampton sedang berupaya mempertahankan momentum setelah start yang tidak ideal, sedangkan Portsmouth ingin membuktikan bahwa investasi besar mereka musim panas ini berbuah hasil nyata. Dalam konteks itulah derby kali ini menjadi ujian sesungguhnya bagi kedua proyek yang sedang dibangun.
Jika melihat sejarah, hasil imbang memang menjadi pola yang sulit dipatahkan dalam beberapa tahun terakhir. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa derby selalu punya cara sendiri untuk mengejutkan, terutama ketika satu tim datang dengan ketenangan baru dan tim lain datang dengan tekanan untuk membuktikan diri.
Kesimpulan
Derby Southampton vs Portsmouth akhir pekan ini menyatukan banyak lapisan cerita: kepastian status Tonda Eckert di bangku cadangan, penantian panjang akan pemenang di laga liga sejak 2005, belanja besar Portsmouth yang belum sepenuhnya terbukti, serta ancaman lini serang Southampton yang dipimpin Finn Azaz, Leo Scienza, dan Cyle Larin. Semua elemen itu membuat laga di St Mary’s bukan sekadar pertandingan tiga poin biasa.
Bagi Southampton, pertanyaan utamanya adalah apakah energi baru dari keputusan FA bisa diterjemahkan menjadi kemenangan pertama di laga liga atas rival terberat mereka setelah sekian lama. Bagi Portsmouth, ini kesempatan emas untuk mencuri hasil di kandang lawan sekaligus membungkam keraguan atas nilai investasi skuad barunya. Apa pun hasilnya, satu hal yang hampir pasti: St Mary’s akan bergemuruh sejak menit pertama.
