Manajer timnas Inggris, Thomas Tuchel, telah mengonfirmasi bahwa ia akan tetap menggunakan rencana penalti Southgate yang telah terbukti sukses di Piala Dunia 2026. Strategi penalti yang diterapkan pendahulunya, Gareth Southgate, dianggap sebagai fondasi penting bagi kesuksesan Inggris dalam adu penalti beberapa turnamen terakhir. Tuchel menegaskan bahwa timnya akan mengikuti protokol yang sudah mapan tersebut saat menghadapi DR Congo di babak gugur.
Pendekatan Meticulous Ala Gareth Southgate
Sebelum Southgate mengambil alih kursi manajer pada 2016, Inggris memiliki rekor buruk dalam adu penalti turnamen besar—hanya memenangkan satu dari tujuh kesempatan. Southgate mengubah paradigma dengan keyakinan bahwa penalti bukanlah lotere. Melalui persiapan yang cermat, ia mengedepankan kejelasan peran dan kesiapan mental.
Tim dilatih secara rutin mensimulasikan situasi adu penalti, meniru tekanan pertandingan nyata sebisa mungkin. Southgate juga menentukan pengambil penalti jauh-jauh hari berdasarkan hasil latihan, serta secara terbuka mengambil tanggung jawab penuh agar pemain terbebas dari beban. Setiap pengambil penalti mendapat seorang “teman” yang menyambut mereka di garis tengah setelah eksekusi—sebuah trik psikologis untuk berbagi tekanan.


Peran Kiper dan Catatan Khusus
Kiper Jordan Pickford juga dibekali catatan riset detail tentang kebiasaan lawan ditempel di botol minumnya. Pendekatan semacam ini membuat tim lebih siap secara teknis dan emosional.
Rekor Penalti Inggris di Era Southgate
Sepanjang sejarah, Inggris terlibat dalam 11 adu penalti di Piala Dunia, Euro, dan Nations League. Sebelum Southgate, satu-satunya kemenangan adalah atas Spanyol di Euro 96. Di bawah Southgate, Inggris justru memenangkan tiga dari empat adu penalti. Kemenangan pertama terjadi di Piala Dunia 2018 saat menundukkan Kolombia, disusul sukses 6-5 atas Swiss di Nations League 2019.
Satu-satunya kekalahan terjadi di final Euro 2020 melawan Italia, meski Inggris kemudian bangkit di Euro 2024 dengan menyingkirkan Swiss 5-3. Southgate juga belajar dari pengalaman pahit di Euro 2020 ketika ia memasukkan Marcus Rashford dan Jadon Sancho hanya beberapa detik sebelum adu penalti; ia kemudian mengubah pendekatan dengan memberi lebih banyak waktu bermain bagi para pengambil penalti sebelum pertandingan usai.
Tuchel: Persiapan Sudah Berjalan, Tapi Tetap Waspada
Tuchel menjelaskan bahwa FA memiliki program yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan ia hanya meneruskannya. “Kami siap. Kami punya proses, pemain juga punya proses,” ujarnya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa mensimulasikan situasi adu penalti tetap sulit. “Thierry Henry pernah bilang ia tidak ingat perjalanan dari garis tengah ke titik penalti pada adu penalti pertamanya untuk Prancis—Anda tidak bisa melatih hal itu,” katanya.
Mengenai susunan penendang, Tuchel mengaku tim sudah tahu siapa yang akan maju dan urutannya, tetapi tidak tahu siapa yang akan menyelesaikan pertandingan—artinya keputusan akhir bergantung pada pemain yang masih berada di lapangan saat waktu normal habis.
Jangan Harap Tampil Memukau Lawan DR Congo
Di sisi lain, Tuchel juga menekankan bahwa Inggris jangan berharap penampilan spektakuler saat menghadapi DR Congo. Timnya lolos sebagai juara Grup L setelah mengalahkan Kroasia dan Panama, serta bermain imbang tanpa gol melawan Ghana. “Kami akan menemukan versi terbaik kami jika berhasil melewati babak-babak berikutnya, ketika lawan benar-benar ingin mengalahkan kami, bukan sekadar bertahan,” jelasnya.
DR Congo sendiri finis ketiga di Grup K dengan hasil imbang melawan Portugal, kalah dari Kolombia, dan menang atas Uzbekistan. “Ini bukan saatnya untuk bersinar dan tampil glamor. Ini saatnya lolos, menyelesaikan pekerjaan, menunjukkan kualitas individu, dan momen-momen kecil,” tegas Tuchel.
Dengan rencana penalti Southgate yang tetap dipertahankan, Inggris memasuki babak gugur Piala Dunia 2026 dengan keyakinan bahwa mereka memiliki senjata mental dan teknis yang sudah teruji. Tuchel hanya perlu memastikan para pemainnya tetap tenang dan siap menghadapi tekanan ketika adu penalti menjadi penentu.
