Latar Belakang Kepindahan Bersejarah
Keputusan Alexia Putellas meninggalkan Barcelona setelah 14 tahun membela klub raksasa Spanyol itu memang mengejutkan banyak pihak. Namun, di balik kejutan tersebut, ada alasan kuat mengapa pemain berjuluk “La Reina” ini memilih bergabung dengan London City Lionesses, klub promosi ke Women’s Super League (WSL) yang berbasis di Bromley.
Tak banyak yang menyangka bahwa salah satu pemain wanita terhebat sepanjang masa akan memilih klub yang relatif kecil ketimbang raksasa seperti Arsenal, Chelsea, atau tim-tim papan atas Eropa lainnya. Namun, kombinasi ambisi besar pemilik klub, Michele Kang, dan visi jangka panjang London City Lionesses menjadi daya tarik utama bagi pemain berusia 31 tahun tersebut.
Mengapa Alexia Putellas Memilih London City?


Alexia Putellas telah memenangkan hampir semua trofi yang ada di level klub bersama Barcelona: 10 gelar liga, 4 Liga Champions, dan sederet penghargaan individu termasuk Ballon d’Or dua kali berturut-turut (2021 dan 2022). Namun, setelah pulih dari cedera ACL dan memenangkan Piala Dunia 2023 bersama Spanyol, ia merasa butuh tantangan baru.
Sumber terdekat pemain menyebut bahwa Putellas selalu tertarik bermain di WSL. Ketika kontraknya di Barcelona habis, ia pun membuka diri terhadap tawaran dari berbagai klub, termasuk dari Inggris, Meksiko, dan Amerika Serikat. Boston Legacy menjadi pesaing terberat, tetapi proyek London City yang digagas Kang berhasil memenangkan hati sang pemain.
Putellas dan Kang pertama kali bertemu di Miami empat tahun lalu. Dalam pertemuan itu, mereka berdiskusi panjang tentang visi mereka untuk sepak bola wanita. Putellas mengaku ingin bergabung dengan klub yang bisa ia pengaruhi baik di dalam maupun luar lapangan, serta meninggalkan warisan yang akan membantu pertumbuhan olahraga ini di masa depan.
Peran Besar Michele Kang dalam Transfer Ini
Michele Kang, pengusaha miliarder asal Amerika Serikat yang juga memiliki klub Lyon, menjadi faktor kunci. Ia tidak hanya menyediakan dana untuk menjadikan Putellas pemain dengan gaji tertinggi di klub, tetapi juga menawarkan proyek ambisius yang selaras dengan nilai-nilai sang pemain.
Meski gaji pokok Putellas disebut di bawah £1 juta (belum termasuk bonus dan tambahan), struktur gaji WSL yang dibatasi aturan salary cap tetap dipatuhi. Kang menggunakan investasi dari perusahaannya, Kynisca, untuk mendukung finansial klub. Lebih dari sekadar uang, Putellas terpikat oleh rencana jangka panjang London City yang ingin bersaing di level Eropa.
Selain itu, kehadiran sejumlah figur Spanyol di klub seperti General Manager Gonzalo Rodriguez Garcia, mantan eksekutif Barcelona Markel Zubizarreta, dan pelatih Eder Maestre membuat Putellas merasa lebih dekat dengan akar budayanya. Teman dekatnya, Jana Fernandez, yang sudah lebih dulu pindah ke London City musim lalu, juga menjadi faktor pendorong.
Dampak Kedatangan Putellas bagi London City dan WSL
Standar Baru di Lapangan dan Ruang Ganti
Putellas diperkirakan akan langsung bergabung dengan kelompok kepemimpinan tim. Kedisiplinan dan profesionalismenya diharapkan menjadi contoh bagi pemain lain. Ia bahkan dilaporkan akan tiba lebih awal dari jadwal pramusim, menolak sejumlah tawaran komersial di Piala Dunia pria demi fokus bersama klub baru.
Branding dan Daya Tarik Global
Dengan pengikut Instagram 44 kali lebih banyak dari total pengikut klub London City, kehadiran Putellas jelas akan mendongkrak popularitas dan peluang pemasaran klub. Klub yang sedang membangun basis penggemar dari nol ini kini bisa memanfaatkan profil internasional sang bintang.
Dampak lain yang tak kalah penting adalah efek domino transfer. Sumber di London City mengonfirmasi bahwa mereka sudah menerima banyak pertanyaan dari pemain top lain yang tertarik bergabung karena hubungan mereka dengan Putellas.
Guncangan bagi Elite WSL
Kedatangan Putellas menjadi sinyal bahaya bagi klub-klub papan atas WSL. Mereka kini harus terus berinvestasi agar tidak tertinggal. Persaingan yang semakin ketat ini pada akhirnya menguntungkan kompetisi secara keseluruhan. Sementara NWSL di AS masih menjadi liga atraktif, WSL semakin unggul dalam mendatangkan pemain-pemain terbaik dunia, termasuk para bintang Spanyol yang kini banyak merapat ke Inggris.
Isu Keuangan dan Aturan Salary Cap
Transparansi finansial juga menjadi sorotan. Kemampuan klub seperti London City membayar gaji tinggi berkat investasi eksternal menimbulkan pertanyaan tentang kesenjangan dengan klub-klub papan bawah. Aturan salary cap WSL yang membatasi gaji pemain maksimal 80% dari total pendapatan klub ditambah investasi tambahan hingga £4 juta bisa menjadi perdebatan baru. Apakah aturan ini mendorong investasi atau justru menghambat pertumbuhan klub yang tak punya kapasitas dana besar?
Selain itu, regulasi UEFA yang melarang satu pemilik memiliki lebih dari satu klub di Liga Champions juga patut dicermati. Jika London City berhasil mencapai ambisi Eropa, Michele Kang harus memutuskan antara Lyon atau London City.
Kesimpulan: Awal Era Baru bagi Sepak Bola Wanita Inggris
Keputusan Alexia Putellas bergabung dengan London City Lionesses bukanlah sekadar transfer biasa. Ini adalah pernyataan ambisi: seorang legenda dunia dan pemilik visioner bersatu untuk membangun klub yang ingin menjadi kekuatan baru di Eropa. Meskipun harus mengorbankan kesempatan bermain di Liga Champions musim ini, Putellas yakin dengan rencana lima tahun klub yang menargetkan tiket ke kompetisi Eropa. Dengan Piala Dunia 2027 di depan mata, kepindahan ini memberi stabilitas bagi kariernya sekaligus membuka babak baru yang menarik bagi WSL dan sepak bola wanita global.
