Mikel Merino: Spesialis Gol Penentu yang Bikin Pelatih Spanyol Tenang

Pelatih tim nasional Spanyol, Luis de la Fuente, memiliki satu nama yang selalu membuatnya merasa tenang di saat-saat genting: Mikel Merino. Ketika pertandingan memasuki menit-menit akhir dan ketegangan memuncak, pelatih asal Spanyol itu yakin sang gelandang bisa tampil sebagai pahlawan. Bukan tanpa alasan, karena Merino sudah membuktikan diri berkali-kali sebagai spesialis gol penentu kemenangan untuk La Roja di turnamen besar.

Ketenangan Luis de la Fuente Berbuah Manis

Menjelang laga perempat final Spanyol melawan Belgia, De la Fuente justru tertawa kecil saat mengingat masa kecilnya. Saat itu, hanya tiga acara televisi yang bisa mengumpulkan keluarganya di depan layar: tim nasional, Eurovision, dan kuis konyol Un, dos, tres. Kini, sebagai pelatih, ia menghadapi tekanan yang berbeda. Spanyol kerap tersandung di babak perempat final—1986, 1994, 2002—namun De la Fuente tidak stres. Ia justru tenang dan percaya diri.

Mikel MerinoMikel Merino

Ketenangan itu menular ke para pemain. Di laga melawan Belgia, Spanyol menguasai 68% penguasaan bola dan melepaskan tiga kali lipat tembakan. Namun skor masih 1-1 hingga waktu terus berjalan. Beberapa kali peluang berbahaya Belgia membuat seolah fatalisme masa lalu kembali menghantui. Tapi Spanyol tidak panik. Mereka terus mencari gol kemenangan dengan cara yang jernih, bukan sekadar umpan silang membabi buta. Dari pinggir lapangan, De la Fuente memberikan ketenangan itu.

Mikel Merino: Gol Penentu di Momen Krusial

Dan dari bangku cadangan, muncullah Mikel Merino. Pemain yang kini berusia 28 tahun itu memiliki kebiasaan luar biasa: mencetak gol penentu kemenangan di menit-menit akhir. Di tiga turnamen besar bersama Spanyol, Merino sudah mencetak tiga gol—satu di Euro 2024 dan dua di Piala Dunia kali ini. Semua dicetak sebagai pemain pengganti, semua menjadi gol kemenangan yang membawa Spanyol lolos ke babak berikutnya. Menit golnya? Menit ke-119, 90+1, dan 88. Sungguh dramatis, persis seperti yang disebut sebagai clutch player.

Setiap gol dirayakan dengan cara yang sama: Merino berlari memutari bendera sudut sebagai penghormatan kepada ayahnya, Ángel Merino, yang 35 tahun lalu merayakan gol kemenangan untuk Osasuna di Stuttgart dengan cara persis sama. Di Euro 2024, Merino menyundul gol kemenangan melawan Jerman di stadion yang sama tempat ayahnya dulu mencetak gol. Kini, di Dallas dan Los Angeles, ia mengulanginya lagi—dua kali dalam empat hari. Sang ayah hadir di Dallas dengan kaus kaki keberuntungan bergambar sundulan putranya. Anak Merino yang baru berusia dua bulan, Marco, tidak bisa datang, jadi Merino mencetak gol lagi untuknya.

Catatan Singkat Sebagai Pemain Pengganti

  • Melawan Portugal di babak 16 besar: masuk pada menit ke-90, bermain 1 menit 56 detik plus waktu tambahan, mencetak gol penentu.
  • Melawan Belgia di perempat final: masuk pada menit ke-86, hanya 4 menit di lapangan, langsung mencetak gol kemenangan.
  • Total waktu bermain Merino di dua laga itu kurang dari setengah jam, tapi cukup untuk mengubah sejarah.

Mengapa Pelatih Begitu Percaya pada Merino?

De la Fuente bersikeras menunggu Merino pulih dari cedera yang membuatnya hanya bermain kurang dari 30 menit sejak Februari. Ada banyak alasan mengapa pelatih Spanyol itu sangat mengandalkannya. “Mikel sangat lengkap, sangat serbaguna. Dia bisa bermain sebagai gelandang bertahan, gelandang serang, second striker, bahkan striker. Semuanya dia lakukan dengan baik,” kata De la Fuente. “Dia punya pemahaman luar biasa tentang apa yang dibutuhkan tim, ketenangan, komitmen, dan solidaritas.”

Kemampuan Merino membaca situasi dan tetap tenang di bawah tekanan menjadi modal berharga. De la Fuente juga percaya bahwa keputusan besarnya—seperti mengganti Pedro dengan Fabián Ruiz yang langsung mencetak gol, atau menarik Dani Olmo yang merupakan pemain terbaik Spanyol di laga sebelumnya—selalu membuahkan hasil, terutama ketika Mikel Merino masuk dari bangku cadangan.

Keberanian Spanyol Hadapi Prancis

Kunci keberhasilan Spanyol juga datang dari mentalitas pelatih. De la Fuente mengutip kalimat dari buku Meditations karya Marcus Aurelius yang sedang dibacanya. Ia memiliki keyakinan dan ketenangan yang jarang dimiliki pelatih lain. Saat banyak pihak meragukan Spanyol, ia justru bertanya, dari mana datangnya negativitas itu? Para pemain pun tak takut. Lamine Yamal, bintang muda, berkata, “Kami tidak takut pada Prancis.” De la Fuente menambahkan, “Wajar jika kami berpikir bisa mengalahkan Prancis; mereka pasti sama khawatirnya dengan kami.” Dan berdasarkan bukti di Piala Dunia ini, Spanyol tidak khawatir sama sekali.

“Saya melihat para pemain saya dan merasa tenang,” ujar De la Fuente. “Mereka juga menghargai ketenangan itu. Jika mereka melihat saya panik, histeris, bicara tidak karuan, tim ini tidak akan merespons dengan baik. Tim ini punya hati; stimulus yang mereka respons adalah pengertian, kasih sayang, dan komitmen. Itulah yang menggerakkan kami.”

Jika semua itu belum cukup, selalu ada Mikel Merino di bangku cadangan. Dengan spesialis gol penentu seperti dia, apa yang bisa salah?