Lee Carsley sedang menggiring Inggris U21 menuju satu babak sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dua kemenangan pada laga kualifikasi berikutnya akan memastikan tempat Young Lions di Euro 2027 sekaligus menjaga peluang mereka menjuarai turnamen tersebut tiga kali secara beruntun. Sepanjang sejarah kompetisi ini, prestasi semacam itu baru pernah dicapai satu negara, dan itu terjadi lebih dari tiga dekade lalu.
Ambisi tersebut bukan sekadar target jangka pendek bagi Carsley, yang sudah dua kali mengantar Inggris U21 menjadi juara Eropa. Ia menilai keberhasilan di level ini punya nilai jangka panjang, baik bagi perkembangan para pemain maupun bagi tim nasional senior Inggris. Karena alasan itulah ia memilih tetap bertahan di kursi pelatih U21, meski sebelumnya sempat menangani tim senior untuk enam pertandingan setelah Gareth Southgate pergi.


Kualifikasi Euro 2027: Dua Laga Penentu untuk Inggris U21
Saat ini Inggris memuncaki Grup D dengan keunggulan tiga poin atas Slovakia. Kemenangan atas Kazakhstan di Stadion Molineux, markas Wolverhampton Wanderers, serta atas Slovakia pada laga berikutnya akan mengunci satu tempat di putaran final Euro 2027. Hasil itu sekaligus menjaga langkah Carsley dan para pemainnya untuk terus memburu sejarah yang sama.
Young Lions dijadwalkan menjamu Slovakia di Stoke pada 2 Oktober, lalu bertandang ke Cork empat hari kemudian untuk menutup Grup D melawan Irlandia. Inggris memulai perjalanan kualifikasi dengan kemenangan 2-0 di Kazakhstan pada September lalu, tetapi belum kembali berlaga sejak mengalahkan Moldova pada Maret. Artinya, ada jeda cukup panjang yang harus dikelola dengan cermat agar ritme tim tidak hilang.
Dari tujuh pertandingan yang sudah dijalani, Inggris menang enam kali. Namun, catatan itu tidak selalu mulus: pada Maret mereka membutuhkan penalti Rico Lewis di masa injury time untuk menyelamatkan hasil imbang 1-1 di Andorra. Detail kecil semacam ini menjadi pengingat bahwa kualifikasi jarang berjalan sesuai skenario yang dibayangkan banyak orang.
Jejak Dua Gelar Beruntun dan Rekor Italia sebagai Patokan
Inggris pernah merasakan juara dua kali berturut-turut pada 1982 dan 1984. Setelah itu, mereka harus menunggu 39 tahun hingga Carsley membawa pasukannya menang di Georgia dan Rumania pada 2023, dengan Spanyol dikalahkan di partai final. Rentang waktu yang panjang itu menunjukkan betapa sulitnya mempertahankan posisi di puncak kompetisi antarnegara kelompok umur.
Gelar kedua datang pada musim panas lalu, ketika Inggris menang lewat perpanjangan waktu atas Jerman di Bratislava. Gol Jonathan Rowe menjadi penentu kemenangan yang memastikan mereka mempertahankan trofi. Keberhasilan itu membuat Inggris kini berdiri di ambang pencapaian yang jarang terulang.
Menjuarai turnamen tiga kali secara beruntun baru pernah dilakukan Italia pada 1990-an. Menariknya, pencapaian Italia itu terjadi sebelum kompetisi memakai format seperti sekarang, yaitu diikuti 16 tim. Dengan kata lain, tidak ada satu pun negara yang pernah menorehkan treble dalam konfigurasi turnamen yang berlaku saat ini, dan itulah yang sedang dikejar Carsley bersama skuadnya.
Warisan Carsley dan Alasan Bertahan di Kursi Pelatih
Meski koleksi trofinya sudah menumpuk, nama Carsley belum terpampang di dinding St George’s Park. Di markas tim nasional Inggris itu, foto setiap manajer senior dipajang berjajar di sepanjang koridor, mulai dari Walter Winterbottom hingga Sam Allardyce yang hanya menangani satu pertandingan. Selain itu, Carsley juga pernah memimpin tim senior dalam enam laga setelah kepergian Southgate.
Bagi Carsley, pengakuan pribadi bukan prioritas utama. Ia justru menyoroti pentingnya meninggalkan jejak jangka panjang bagi sepak bola Inggris. “Semakin bertambah usia, kamu ingin meninggalkan warisan, bukan?” ujarnya, saat Inggris memimpin Grup D dengan selisih tiga poin atas Slovakia.
Ia mengaku sadar ada jalur yang lebih mudah setelah kemenangan pertamanya. “Akan lebih mudah setelah kemenangan pertama untuk beralih ke manajemen klub dan menerima beberapa tawaran. Tapi saya menikmati pekerjaan ini dan saya menikmati menjadi bagian dari misi yang lebih besar untuk memenangi turnamen besar. Saya ingin menjadi bagian dari FA saat kami melakukannya,” katanya.
Menanggung Ekspektasi sebagai Juara Bertahan
Tekanan sebagai juara bertahan dua kali justru disambut Carsley dengan tangan terbuka. Menurutnya, status itu tidak bisa dihindari dan harus dikelola dengan sikap yang tepat. Ia bahkan menggambarkan posisi timnya sebagai sasaran yang selalu dibidik lawan.
“Saya pikir kami harus merangkulnya. Mereka datang untuk bermain di U21, dan kamu juara berturut-turut. Ada sasaran yang membidik punggungmu. Kami harus sadar akan hal itu dan tetap melangkah,” ujar mantan gelandang Everton dan Derby itu.
Ia juga menyoroti bahaya ekspektasi yang terlalu tinggi di luar lapangan. “Ekspektasinya, kami hanya akan melewati grup, lalu menang perempat final, menang semifinal, dan menang final… itu sangat sulit. Prioritas saya jelas kualifikasi, dan soal itu nanti saya pikirkan,” tambahnya.
Jalur Menuju Tim Senior dan Drama Kualifikasi Euro 2025
Perjalanan Inggris U21 menarik dicermati karena banyak pemainnya kemudian menembus tim senior. Skuad juara 2023, misalnya, diperkuat nama-nama seperti Cole Palmer dan Anthony Gordon. Bahkan Noni Madueke, yang tampil di Piala Dunia tahun ini, belum tentu mendapat tempat di starting XI U21 pada masanya — sebuah gambaran betapa dalamnya persaingan di dalam skuad.
Saat ini, sejumlah nama yang sudah dikenal publik ikut memperkuat Young Lions, termasuk Archie Gray dari Tottenham dan Jobe Bellingham dari Dortmund. Kehadiran mereka memperkuat keyakinan bahwa jalur U21 tetap menjadi pintu masuk penting menuju tim utama. Karena itu, setiap pertandingan kualifikasi punya bobot lebih dari sekadar tiga poin.
Kendati begitu, gelar juara 2023 dan 2025 diraih dengan sejumlah momen mendebarkan. Pada kualifikasi Euro 2025, Inggris hanya menang di Grup F dengan selisih satu poin. Mereka membutuhkan dua gol telat James McAtee untuk mengalahkan Ukraina di laga kedua terakhir, sehingga persaingan juara grup baru ditentukan pada pertandingan pamungkas. Inggris kemudian menang 7-0 atas Azerbaijan, seiring kekalahan Ukraina 1-0 dari Serbia, untuk menyalip rivalnya di puncak klasemen.
Pengalaman itulah yang membuat Carsley menolak menganggap remeh lawan mana pun. “Kami tidak bisa sombong dan berpikir, kami akan datang, kami punya pemain yang lebih baik. Kami harus terus membuat para pemain sadar bahwa kami adalah buruan besar, ini kesempatan mereka untuk membuat nama besar di negara sendiri, jadi penting secara mental dan fisik kamu siap menghadapi tantangan,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa proses kualifikasi hampir selalu rumit. “Sangat sulit untuk lolos. Saya belum pernah melihat proses kualifikasi yang mudah, tapi kadang kita lupa — ketika berada di lapangan dan trofi ada di tangan — perjalanan yang dilewati untuk sampai ke sana,” ucapnya.
Dengan posisi di puncak Grup D dan sisa laga melawan Slovakia serta Irlandia, Inggris U21 punya kendali penuh atas nasibnya sendiri. Kemenangan akan memastikan tiket ke Euro 2027 sekaligus membuka jalan menuju pencapaian yang belum pernah dilakukan satu pun negara dalam format turnamen saat ini.
Bagi Carsley, hasil akhir nanti bukan hanya soal trofi atau foto yang akhirnya terpampang di koridor St George’s Park. Yang ia kejar adalah warisan yang bertahan lebih lama dari sekadar gelar, yakni budaya juara yang diteruskan dari satu angkatan pemain ke angkatan berikutnya.
