Modric Merasa Malu atas Kekalahan Terberat Kroasia

Luka Modric mengaku merasa malu setelah Kroasia menelan kekalahan terberat Kroasia sepanjang sejarah, yaitu 7-0 dari Inggris pada ajang Liga Nations. Gelandang veteran itu menyebut penampilan timnya jauh dari standar yang seharusnya dan mengaku baru kali ini merasakan rasa malu selama membela tim nasional. Kekalahan tersebut terjadi di kandang sendiri, di Rijeka, dan langsung memicu reaksi keras dari dalam skuad maupun staf pelatih.

Yang membuat laga ini terasa lebih menyakitkan, Kroasia tampil di hadapan penonton yang sebagian besar merupakan anak-anak sekolah karena pihak tuan rumah dikenai pembatasan oleh UEFA. Situasinya pun bertambah berat karena Kroasia masih harus melakoni satu pertandingan lagi di jeda internasional ini. Mereka akan menjamu Spanyol, dan kekalahan pada laga tersebut hampir bisa dipastikan menutup peluang mereka lolos ke delapan besar.

Modric Merasa Malu Modric Merasa Malu

Rincian Kekalahan 7-0 Kroasia dari Inggris

Inggris sudah membangun keunggulan besar sebelum babak pertama usai. Harry Kane, Jude Bellingham, Anthony Gordon, dan Bukayo Saka mencetak gol sebelum turun minum, sebuah catatan yang membuat Inggris untuk pertama kalinya memiliki empat pencetak gol berbeda dalam satu babak pertama sejak Maret 2013 melawan San Marino, ketika nama Frank Lampard, Jermain Defoe, Ashley Young, dan Alex Oxlade-Chamberlain tercatat sebagai pencetak gol.

Setelah jeda, pasukan Thomas Tuchel sama sekali tidak menurunkan tempo. Kane dan Saka masing-masing menambah satu gol lagi ke koleksi mereka, sementara Morgan Rogers yang masuk dari bangku cadangan melengkapi pesta gol Inggris menjadi tujuh. Dominasi itu terlihat jelas dari statistik, dan bukan sekadar hasil keberuntungan semata.

Data expected goals (xG) memperkuat gambaran tersebut. Inggris mencatatkan angka xG sebesar 6,43, sementara Kroasia hanya 1,39. Angka itu menjadi xG tertinggi yang pernah dicatatkan sebuah tim dalam satu pertandingan Liga Nations dengan selisih yang cukup jauh, melampaui 4,89 xG milik Belarus saat menghadapi San Marino pada September 2018.

Latar Belakang: Seberapa Buruk Kekalahan Ini bagi Kroasia

Sebelum laga di Rijeka, Kroasia belum pernah kalah di kandang dengan selisih lebih dari tiga gol. Satu-satunya kekalahan kandang terburuk yang pernah mereka alami adalah 4-1 dari lawan yang sama, Inggris, pada September 2008. Adapun kekalahan terburuk Kroasia secara keseluruhan sebelumnya adalah 6-0 saat bertandang ke Spanyol pada 2018.

Artinya, hasil 7-0 ini tidak hanya memecahkan rekor kandang, tetapi juga mencoret rekor kekalahan terburuk sepanjang sejarah tim nasional Kroasia. Bagi negara yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola Eropa, angka tersebut terasa seperti pukulan telak terhadap reputasi yang dibangun susah payah. Tak heran jika Modric memilih kata “malu” untuk menggambarkan perasaannya.

Dari sisi Inggris, kemenangan ini juga punya bobot tersendiri. Mereka mencatatkan margin kemenangan terbesar atas negara yang berada di peringkat 50 besar FIFA sejak 1992. Catatan itu menegaskan bahwa hasil di Rijeka bukan sekadar kemenangan biasa, melainkan salah satu penampilan paling dominan yang pernah ditunjukkan Inggris dalam beberapa dekade terakhir.

Reaksi Luka Modric: “Untuk Pertama Kali Saya Merasa Malu”

Modric tidak menyembunyikan kekecewaannya saat berbicara seusai pertandingan. Ia menilai Kroasia tampil tanpa perlawanan yang berarti sejak awal laga. “Kamu tidak bisa bermain sepak bola seperti itu. Kami terlihat seperti kehilangan empat atau lima pemain,” ujarnya.

Gelandang berusia veteran itu juga mengaku kesulitan menemukan alasan di balik penampilan timnya. Menurutnya, Kroasia gagal memenangi duel, tidak melakukan pelanggaran taktis, dan tidak menunjukkan agresivitas maupun kekompakan yang biasanya menjadi ciri khas mereka. Ia menegaskan bahwa kekalahan itu bukan sekadar soal kualitas lawan, melainkan soal sikap dan mentalitas tim sendiri.

  • “Sulit mencari penjelasan atas penampilan seperti itu, tanpa memenangi duel, melakukan pelanggaran, menunjukkan agresivitas dan kekompakan.”
  • “Saya sudah 20 tahun di sini, tapi untuk pertama kalinya, saya merasa malu setelah pertandingan.”
  • “Kamu bisa kalah, atau bermain melawan lawan yang lebih baik — dan mereka memang lebih baik saat ini. Tapi kalah seperti ini dan menyia-nyiakan reputasi yang kami bangun bertahun-tahun itu tidak bisa diterima. Saya merasa malu.”

Respons Pelatih Slaven Bilic

Pelatih kepala Slaven Bilic mengaku kehilangan kata-kata untuk menjelaskan hilangnya organisasi permainan timnya secara total. Ia menyatakan kesedihannya dan secara khusus menyampaikan simpati kepada para penggemar serta anak-anak yang hadir menyaksikan laga langsung di stadion. Menurutnya, kekalahan seperti ini adalah yang paling berat dirasakan oleh seluruh anggota tim.

“Sulit mengatakan apa pun setelah malam seperti ini,” kata Bilic. Ia mengaku tidak tahu harus menyebut apa yang terjadi pada timnya, apakah bisa disebut sebagai blackout, karena menganalisis pertandingan yang berakhir 7-0 nyaris mustahil dilakukan secara objektif.

Bilic juga mengakui bahwa Kroasia sejak awal sadar menghadapi tim papan atas, tetapi tidak menyangka timnya tidak mampu menandingi Inggris dalam aspek apa pun. Ia menilai situasi itu kemudian menyerang kepercayaan diri dan kemauan para pemain, hingga membuat semua rencana permainan berantakan dan berjalan ke arah yang salah.

Dampak bagi Kroasia dan Peluang ke Perempat Final

Kekalahan ini datang di waktu yang sangat tidak menguntungkan. Kroasia masih harus menjamu Spanyol pada pertandingan terakhir mereka di jeda internasional ini, dan hasil buruk akan hampir memastikan langkah mereka terhenti sebelum delapan besar. Tekanan pun berpindah dari sekadar memperbaiki performa menjadi upaya menyelamatkan sisa kampanye di Liga Nations.

Modric menekankan bahwa timnya tidak punya pilihan selain kembali bersatu. “Kami harus bersatu dan tetap solid karena pertandingan sulit lain menanti,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Kroasia wajib menunjukkan jati diri mereka, bahwa mereka masih punya daya juang, harga diri, keinginan, kemauan, dan persatuan yang tidak bisa hilang dalam semalam.

Selain soal peluang kualifikasi, ada pula implikasi jangka panjang yang perlu dicermati. Kekalahan dengan margin sebesar ini berpotensi menggerus kepercayaan diri para pemain muda Kroasia yang sedang menjalani proses regenerasi. Reputasi sebagai tim yang sulit dikalahkan, terutama di kandang, juga bisa ikut terguncang jika tidak segera dijawab dengan performa yang meyakinkan.

Konteks Lebih Luas: Inggris yang Tak Kenal Ampun

Dari kubu Inggris, laga ini memperlihatkan betapa seriusnya mereka menjalani kompetisi ini. Tim asuhan Thomas Tuchel menolak mengendurkan tekanan meski sudah unggul jauh sejak babak pertama. Keputusan itu berbuah tambahan tiga gol di paruh kedua, termasuk gol penutup dari pemain pengganti Morgan Rogers.

Kedalaman skuad menjadi salah satu hal yang menonjol. Sebanyak lima pemain berbeda mencetak gol, dan Inggris tetap produktif tanpa kehilangan kendali permainan. Kombinasi antara pemain senior dan pemain muda seperti Bellingham dan Gordon memberi gambaran bahwa Inggris punya banyak opsi untuk menghadapi jadwal padat di kompetisi ini.

Bagi Kroasia, pertandingan melawan Spanyol akan menjadi ujian seberapa cepat mereka bisa pulih secara mental. Sebaliknya, bagi Inggris, hasil di Rijeka menegaskan bahwa mereka layak diperhitungkan sebagai salah satu favorit. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Inggris bisa mencetak banyak gol, melainkan apakah mereka mampu menjaga konsistensi performa seperti ini di laga-laga berikutnya.

Kesimpulan

Kekalahan terberat Kroasia, 7-0 dari Inggris, meninggalkan luka yang dalam bagi tim maupun para penggemarnya. Modric menyebutnya sebagai momen pertama dalam karier internasionalnya di mana ia merasa malu, sementara Bilic mengakui timnya kehilangan organisasi permainan secara total. Statistik xG yang timpang semakin menegaskan bahwa hasil itu bukanlah kebetulan.

Yang tersisa sekarang adalah bagaimana Kroasia merespons. Laga melawan Spanyol menjadi kesempatan sekaligus ancaman: sebuah hasil positif bisa memulihkan kepercayaan diri, tetapi kekalahan lain berpotensi memperpuruk situasi. Di sisi lain, Inggris meninggalkan Rijeka dengan satu pesan jelas bahwa mereka bukan lawan yang bisa dihadapi setengah hati.