Dari Kuda Hitam Jadi Calon UCL

Crystal Palace mengalami kombinasi penurunan performa, kelelahan skuad, dan kekacauan manajemen yang membuat mereka jatuh dari calon penantang Liga Champions menjadi tim papan tengah yang rawan terseret ke zona degradasi.

Di pertengahan Oktober, Palace termasuk dalam tiga tim Premier League dengan non‑penalty xG differential +4 atau lebih bersama Arsenal dan Manchester City, sebuah indikator bahwa kualitas peluang mereka setara tim elit. Mereka menang 3‑0 atas Aston Villa dan menciptakan hampir 3.0 xG dalam kemenangan 2‑1 melawan Liverpool, sehingga dipandang sebagai outsider paling realistis untuk menembus zona Liga Champions ketika kemungkinan jatah lima wakil Inggris terbuka.

Pada awal Desember, kemenangan 2‑1 atas Fulham mengangkat Palace ke peringkat empat klasemen dan secara statistik mereka hanya kalah dari Arsenal, City, dan Liverpool dalam hal xG differential setelah 15 laga. Dengan performa seefisien itu, wajar jika banyak yang mengira tren positif ini akan bertahan, terutama karena mereka baru saja melalui tahun 2025 yang disebut sebagai salah satu tahun terbaik dalam sejarah klub.

Terjun Bebas: Winless Streak Panjang

Setelah menang atas Fulham, grafik mereka jatuh tajam: dalam sembilan laga liga berikutnya, Palace tidak menang sekalipun (3 imbang, 6 kalah), dan secara total mereka memasuki Februari dengan 12 pertandingan tanpa kemenangan di semua ajang. Reuters mencatat hasil imbang 1‑1 di kandang Nottingham Forest yang bermain dengan 10 pemain sebagai laga ke‑12 beruntun tanpa kemenangan bagi Palace di seluruh kompetisi.

Menariknya, level performa berdasarkan xG dalam 10 laga terakhir hanya turun ke rata‑rata liga, tetapi itu justru menghasilkan selisih gol terburuk di Premier League pada rentang tersebut. Ini menunjukkan dua hal terjadi bersamaan: kualitas permainan menurun, dan “bola tidak memantul ke arah mereka” (finishing dan bertahan di bawah standar), sehingga hasilnya jauh lebih buruk dari yang disiratkan data peluang.

Faktor Fisik: Skuad Tipis dan Beban Eropa

Salah satu akar masalah adalah kedalaman skuad yang tidak siap menghadapi jadwal padat, terutama karena ini musim pertama Palace bermain di kompetisi Eropa (Europa Conference League). Dalam tujuh laga liga pertama, lima pemain belakang utama mereka nyaris memainkan setiap menit, tetapi setelah itu badai fisik mulai muncul.

Marc Guéhi kemudian dijual ke Manchester City pada Januari dengan harga sekitar £20 juta, padahal kontraknya baru habis akhir musim dan sebelumnya sempat hampir pindah ke Liverpool dengan nilai lebih besar. Di saat bersamaan, Chris Richards dan Daniel Muñoz absen dalam periode panjang karena cedera, membuat lini belakang kelelahan dan sering diisi kombinasi darurat.

Kekacauan Manajemen dan Ruang Ganti

Secara emosional, situasi klub ikut memburuk. Oliver Glasner, yang sebelumnya memimpin musim historis (FA Cup dan start Eropa yang positif), akhirnya mengumumkan akan meninggalkan klub di akhir musim dan mengakui keputusan itu sudah ia ambil sejak jeda internasional Oktober. Aura “pelatih akan pergi” ini menambah rasa ketidakpastian di ruang ganti, apalagi hasil di lapangan terus memburuk.

Di level kepemilikan, Palace juga berada dalam sorotan setelah menjual 43% saham klub kepada pemilik New York Jets, yang di media Inggris banyak disorot karena rekam jejak buruk di NFL. Kombinasi manajer yang akan hengkang, kapten yang dijual, dan pemilik baru yang dipandang skeptis membuat “vibes” klub terasa negatif meski metrik permainan belum sepenuhnya runtuh.

Drama Transfer: Guéhi Pergi, Mateta Gagal ke Milan

Secara personel, Palace kehilangan figur paling penting di belakang ketika Marc Guéhi resmi meneken kontrak lima setengah tahun di Manchester City dengan gaji dilaporkan sekitar 300.000 per minggu. Nilai transfer £20 juta itu setara 10,5% dari total pendapatan klub, menggambarkan betapa pentingnya pemasukan tersebut bagi neraca finansial Palace.

Di lini depan, Jean‑Philippe Mateta nyaris pindah ke AC Milan dalam kesepakatan sekitar £30 juta, tetapi gagal lolos tes medis karena masalah meniscus lutut kanan yang sudah ada sejak 2019, dan laporan medis menyebut ia kemungkinan membutuhkan operasi dan absen 3‑4 bulan. BBC menulis bahwa masa depan Mateta untuk klub dan tim nasional kini berada dalam ketidakpastian, sehingga Palace berisiko kehilangan kontribusi utamanya di kotak penalti.

Rekrutmen Januari: Johnson Masuk, Masalah Belum Hilang

Untuk menambal lubang di depan, Palace memecahkan rekor transfer klub dengan merekrut Brennan Johnson dari Tottenham dalam paket sekitar 35 juta, setelah sang pemain mencetak 18 gol untuk Spurs musim sebelumnya dan menjadi penentu di final Liga Europa. Glasner memuji kecepatannya dan percaya Johnson akan menambah opsi serangan, terutama dengan jadwal padat dan beberapa penyerang masih cedera atau ke turnamen internasional.

Mereka juga membawa Jørgen Strand Larsen dari Wolves sebagai penyerang target man yang kuat secara fisik, tetapi ia baru mencetak satu gol musim ini sehingga masih tanda tanya seberapa besar dampaknya dalam jangka pendek. Yang mencolok, Palce belum benar‑benar menggantikan kualitas Guéhi di belakang, sehingga keseimbangan tim tetap rapuh meski serangan diperkuat.

Dampak di Lapangan: Serang Tumpul, Mental Drop

Di lapangan, pola masalah terlihat jelas. Dalam laga terakhir melawan Nottingham Forest, Palace memegang 66% penguasaan bola dan lebih banyak percobaan tembakan, namun hanya mampu mencetak gol melalui penalti Ismaila Sarr dan tidak menghasilkan satu pun tembakan tepat sasaran di babak kedua. Forest yang bermain dengan 10 orang sejak akhir babak pertama justru tetap mampu menahan skor 1‑1, menambah panjang catatan tanpa menang Palace.

Laporan analitis menyebut Palace sebagai salah satu tim paling underperform terhadap xG di liga; peluang yang mereka ciptakan tidak berbuah gol sebanding, sementara di sisi lain kebobolan mereka cenderung datang dari momen‑momen buruk di kotak penalti sendiri. Kombinasi finishing buruk, kesalahan bertahan, dan kepercayaan diri yang runtuh menjadikan mereka “tim rata‑rata secara permainan, tapi sangat buruk secara hasil” dalam dua bulan terakhir.

Apa Artinya ke Depan?

Secara klasemen, Palace memang masih berada di sekitar posisi 14 dan tiga poin di atas Nottingham Forest, tetapi tren performa dan atmosfer klub memunculkan pertanyaan apakah mereka mulai terseret ke pertarungan degradasi. The Athletic menyebut mereka “diam‑diam sudah masuk zona bahaya” mengingat winless streak 11–12 laga di semua kompetisi dan memori masa lalu ketika rangkaian serupa berujung pemecatan manajer sebelumnya.

Secara ringkas, yang terjadi pada Crystal Palace adalah contoh bagaimana kombinasi jadwal Eropa, skuad yang terlalu tipis, penjualan figur utama, drama transfer yang gagal, dan keputusan manajer untuk hengkang bisa mengubah tim yang semula tampak siap naik kelas menjadi klub yang kembali harus berpikir realistis sekadar bertahan di Premier League musim ini.