Harry Kane Raih Ballon d’Or Berkat Musim Penuh Rekor

Harry Kane akhirnya resmi menyandang status sebagai pemain terbaik dunia setelah keluar sebagai pemenang Ballon d’Or dalam seremoni yang digelar di London. Gelar Harry Kane dalam ajang Ballon d’Or ini sekaligus memutus penantian panjang Inggris selama 25 tahun, sejak Michael Owen terakhir kali membawa pulang trofi bergengsi tersebut pada 2001. Penyerang Bayern Munich itu kini tercatat sebagai pesepak bola Inggris kelima yang berhasil menaklukkan pemungutan suara global tersebut.

Kemenangan Kane terasa istimewa karena ia meraihnya tanpa mengangkat trofi World Cup maupun Liga Champions pada musim lalu. Di belakangnya, penyerang Real Madrid asal Prancis Kylian Mbappe harus puas di posisi kedua, sementara bintang Barcelona dan Timnas Spanyol Lamine Yamal melengkapi tiga besar. Hasil ini menegaskan bahwa konsistensi mencetak gol dalam jumlah luar biasa masih mampu mengalahkan prestasi kolektif ketika juri menentukan siapa yang layak disebut yang terbaik.

Harry Kane Harry Kane

Rekor Gol Harry Kane di Musim 2025-26

Jika dilihat dari sisi produksi gol, tidak ada pemain di Eropa yang mampu mendekati capaian Kane pada musim lalu. Ia menorehkan 61 gol dalam 51 pertandingan bersama Bayern Munich di seluruh kompetisi, angka yang belum pernah dicapai pemain mana pun sepanjang sejarah klub tersebut dalam satu musim. Jumlah itu terpaut 19 gol lebih banyak dibanding pemain tersubur lainnya di lima liga top Eropa, sebuah jarak yang nyaris tidak masuk akal untuk level kompetisi seketat Bundesliga dan Liga Champions.

Menariknya, torehan tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak Cristiano Ronaldo mencatatkan 61 gol untuk Real Madrid sekitar 11 tahun silam. Rincian gol Kane tersebar merata di berbagai ajang: 36 gol di Bundesliga dengan selisih 17 gol dari pesaing terdekatnya di daftar top skor, 14 gol di Liga Champions meski Bayern gugur di semifinal, serta 10 gol di DFB-Pokal. Di final Piala Jerman, ia bahkan mencetak hattrick dalam kemenangan 3-0 atas Stuttgart, dan menambahkan satu gol lagi di Piala Super Jerman.

Tambahkan penampilannya bersama Timnas Inggris, maka totalnya membengkak menjadi 73 gol plus delapan assist dalam 65 laga. Dua belas gol untuk Inggris itu termasuk enam gol di putaran final World Cup. Sepanjang sejarah pemain dari liga-liga top Eropa, hanya Lionel Messi yang pernah mencatat angka lebih tinggi dalam satu musim, yakni 82 gol untuk Barcelona dan Argentina pada 2011-12. Setelah Kane, daftar berikutnya diisi Gerd Muller dengan 72 gol pada 1972-73, Cristiano Ronaldo dengan 66 gol dua kali, Ronaldo Fenomeno dengan 66 gol pada 1996-97, Erling Haaland 64 gol pada 2022-23, dan Luis Suarez 64 gol pada 2015-16.

Pencapaian itu kian mencolok karena sebelumnya prestasi terbaik Kane di Ballon d’Or hanya menempati peringkat ke-10. Ia kini berdiri sejajar dengan deretan legenda Bayern yang dikenal sebagai mesin gol, seperti Gerd Muller, Karl-Heinz Rummenigge, dan Robert Lewandowski — dan justru melampaui rekor mereka dalam hal jumlah gol semusim.

Jalan Panjang Kane Sebelum Menjadi yang Terbaik

Di balik angka-angka tersebut, Kane menegaskan bahwa perjalanannya menuju puncak tidak pernah mulus. Dalam wawancaranya dengan Dazn, ia mengaku tidak menyangka bisa sampai sejauh ini dan menyebut dirinya bukan sosok yang sejak awal diprediksi bakal menjadi bintang besar seperti para pemain generasi sekarang. Menurutnya, ia harus menunggu kesempatan dan bekerja jauh lebih keras dibanding banyak orang untuk bisa bertahan di level tertinggi.

Kane juga menyoroti pergulatan mental yang harus dilaluinya, terutama pada fase awal karier. Ia menggambarkan banyak momen ketika lawan terberatnya justru adalah pikirannya sendiri, sehingga kepercayaan diri dan tekad menjadi modal utama untuk bangkit. Pengalaman itu, katanya, membuatnya tetap membumi ketika akhirnya menembus level elite, dan terus mendorongnya untuk memperbaiki diri dari musim ke musim.

Dari sisi pelatih, Thomas Tuchel mengaku senang melihat anak asuhnya meraih penghargaan tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah kehormatan besar. Pangeran William pun ikut memberi komentar, memuji mantan pemain Tottenham Hotspur itu sebagai kapten yang luar biasa dan pesepak bola yang istimewa. Dukungan dari figur publik di Inggris ini menunjukkan betapa besar arti gelar tersebut bagi sepak bola negara itu.

Yang membuat kemenangan Kane terasa berbeda adalah absennya trofi besar antarklub maupun internasional di tangannya musim lalu. Bayern dan Inggris sama-sama gugur di babak semifinal, baik di Liga Champions maupun World Cup, sehingga torehan gol menjadi alasan utama ia dipilih. Satu-satunya trofi yang ia angkat adalah gelar ganda Jerman bersama Bayern, hasil yang sebenarnya sudah lebih dari dua kali lipat total trofi sepanjang kariernya, termasuk Bundesliga pada musim sebelumnya.

Seberapa Langka Menang Ballon d’Or Tanpa Trofi Besar?

Sejarah menunjukkan bahwa meraih Ballon d’Or tanpa trofi mayor merupakan hal yang jarang terjadi, meski bukan mustahil. Sejak pertama kali digelar pada 1956 hingga 1995, penghargaan ini hanya terbuka bagi pemain Eropa sebelum akhirnya dibuka untuk semua kewarganegaraan. Sejak keterbukaan itu, ada empat dari tujuh tahun Piala Dunia yang trofinya jatuh ke tangan pemain yang berstatus juara dunia, termasuk Messi pada 2023 untuk perhelatan World Cup 2022 yang digelar di musim dingin.

Namun, kejadian pada 2023 itu justru menjadi yang pertama sejak 2006. Di antara periode tersebut, Messi, Cristiano Ronaldo, dan Luka Modric sama-sama menang meski tidak mengangkat Piala Dunia pada tahun yang bersangkutan. Dalam 20 tahun terakhir, ini baru kelima kalinya Ballon d’Or tidak jatuh kepada pemain yang memenangi World Cup, Liga Champions, Euro, atau Copa America — dan Kane kini melengkapi daftar yang sebelumnya hanya diisi Messi tiga kali dan Ronaldo.

Konteks itu memperlihatkan bahwa keputusan tahun ini cukup mengejutkan, terlebih Lamine Yamal yang berstatus juara dunia bersama Spanyol sempat diunggulkan. Sebagai pembanding, pada tahun sebelumnya trofi Liga Champions membantu Ousmane Dembele dari PSG dan Prancis meraih mahkota tersebut, yang menegaskan betapa besar pengaruh gelar kolektif dalam penilaian juri.

Arti Gelar Ini untuk Bayern Munich dan Timnas Inggris

Kemenangan Kane juga menutup puasa panjang Bayern Munich di ajang individu paling bergengsi tersebut. Ia menjadi pemain Bayern pertama yang meraih Ballon d’Or sejak Karl-Heinz Rummenigge pada 1981, jeda yang sangat panjang bagi klub yang rutin mendominasi Jerman. Untuk merayakannya, lengkungan ikonik Stadion Wembley diterangi cahaya keemasan pada Senin malam, sebuah simbol penghormatan bagi kapten Timnas Inggris itu.

Di level nasional, dampaknya lebih besar lagi. Inggris harus menunggu seperempat abad sejak Owen pada 2001, dan Kane kini bergabung dengan Stanley Matthews (1956), Bobby Charlton (1966), serta Kevin Keegan (1978 dan 1979) sebagai satu-satunya pemain Inggris yang pernah memenanginya. Dari kawasan Inggris Raya secara keseluruhan, ada pula Denis Law dari Skotlandia (1964) dan George Best dari Irlandia Utara (1968) yang tercatat sebagai peraih sebelumnya.

Dukungan dari sesama mantan penyerang Inggris pun mengalir deras. Alan Shearer menilai bahwa pemenang Ballon d’Or seharusnya memang Kane, karena angka-angkanya selama 12 hingga 18 bulan terakhir luar biasa bagi Bayern maupun Inggris. Danny Murphy menambahkan bahwa ketajaman Kane konsisten dan brilian, adaptasinya di Bayern berjalan mulus, dan ia layak disebut sebagai penyerang tengah terbaik dunia selama setahun terakhir.

Peluang Kane Mempertahankan Gelar

Pertanyaan berikutnya yang langsung muncul adalah apakah Kane bisa mempertahankan trofi ini. Awal musim ini ia sudah mengumpulkan 10 gol dalam 12 pertandingan pertamanya bersama Bayern, lalu menambah enam gol dalam empat laga Nations League untuk Inggris, sehingga totalnya menjadi 16 gol dalam 16 pertandingan. Bayern sendiri masih belum terkalahkan di Bundesliga maupun Liga Champions, fondasi yang sangat menjanjikan untuk sisa musim.

Faktor lain yang menguntungkan adalah tidak adanya World Cup, Euro, maupun Copa America pada musim ini, sehingga penilaian akan lebih bertumpu pada performa klub dan Liga Champions. Jika Bayern mampu meraih treble dan Kane terus mencetak gol dengan rata-rata hampir satu gol per laga, sulit mencari alasan untuk tidak memilihnya lagi. Sejak era Messi dan Ronaldo, belum ada pemain yang menang dua tahun beruntun — terakhir adalah Marco van Basten pada 1988 dan 1989.

Namun persaingan tetap ketat. Lamine Yamal, yang finis kedua lalu ketiga dalam dua tahun terakhir, memulai musim dengan performa menyala: 10 gol dan 10 assist dalam 13 laga Barcelona di La Liga dan Liga Champions. Barcelona juga disebut sebagai favorit juara Liga Champions, faktor yang bisa menjadi penentu akhir, dan jika Yamal menang tahun depan ia akan menjadi peraih termuda dalam sejarah pada usia 20 tahun.

Kylian Mbappe pun masih membuka peluang merebut trofi pertamanya dengan torehan 14 gol dalam 13 penampilan bersama klub dan negaranya. Sebagai catatan, peraih termuda sejauh ini masih dipegang Ronaldo Fenomeno yang berusia 21 tahun saat menang pada 1997. Arsenal, yang belum pernah memiliki pemenang Ballon d’Or, dan Paris Saint-Germain juga masuk dalam deretan kandidat kuat juara Liga Champions yang bisa mengubah peta persaingan.

Penutup

Kemenangan Harry Kane atas Ballon d’Or pada akhirnya adalah kemenangan atas konsistensi. Ia tidak membawa pulang trofi terbesar bersama klub maupun negaranya, tetapi angka 61 gol di level klub dan 73 gol bila dihitung bersama Inggris adalah bukti kerja keras yang sulit dibantah. Gelar ini sekaligus menutup penantian 25 tahun Inggris dan 44 tahun Bayern Munich di ajang tersebut.

Dengan performa awal musim yang kembali produktif dan Bayern yang belum tersentuh kekalahan, peluang Kane untuk mempertahankan mahkota tetap terbuka lebar. Tantangannya datang dari generasi muda seperti Lamine Yamal dan Kylian Mbappe yang sama-sama lapar gelar. Apa pun yang terjadi, musim ini akan menjadi ujian apakah torehan luar biasa Kane hanyalah puncak sesaat atau awal dari sebuah dinasti baru.