Bradford City resmi memberikan izin kepada Preston North End untuk berbicara dengan pelatih mereka, Graham Alexander, terkait kursi manajerial yang tengah kosong di klub Championship tersebut. Namun izin itu tidak diberikan dengan lapang dada, karena Bradford mengaku melakukannya secara “berat hati” atau reluctantly.
Pengumuman ini menjadi sinyal bahwa Preston serius mengejar Alexander, sosok yang punya sejarah panjang di Deepdale sebagai pemain. Bagi Bradford, situasi ini jelas merepotkan karena mereka sedang berada di puncak klasemen League One dan belum lama menikmati hasil kerja Alexander. Artinya, ada potensi gangguan besar di tengah musim jika sang pelatih memutuskan pindah.


Keputusan Berat Hati Bradford City
Dalam pernyataan resminya, Bradford City mengonfirmasi bahwa mereka telah dihubungi Preston North End untuk membahas lowongan manajerial klub Championship tersebut. Manajemen Bantams menegaskan bahwa mereka tidak bisa menahan langkah Alexander jika sang pelatih ingin berbicara langsung dengan pihak Preston. Karena itu, permintaan itu akhirnya dikabulkan meski dengan berat hati.
Menurut laporan BBC Radio Lancashire, proses seleksi di Preston kini menyusut ke dua nama final. Posisi Alexander dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa ia menjadi salah satu kandidat terkuat, bukan sekadar nama pelengkap. Hal ini wajar mengingat kedekatan historisnya dengan klub maupun kebutuhan Preston akan sosok yang cepat bisa membenahi tim.
Alexander sendiri masih terikat kontrak bersama Bradford hingga akhir musim depan. Status kontrak itu membuat kepindahannya tidak bisa terjadi tanpa restu klub, sehingga izin yang diberikan Bradford menjadi langkah krusial sebelum negosiasi apa pun berjalan lebih jauh.
Mengapa Preston North End Cari Pelatih Baru
Kekosongan kursi pelatih di Preston muncul setelah Paul Heckingbottom diberhentikan awal bulan ini. Ia sebelumnya menangani North End selama dua tahun, tetapi rentetan hasil buruk membuat manajemen kehilangan kesabaran. Pemicu utamanya adalah enam kekalahan dalam tujuh pertandingan liga pertama musim ini.
Dampak dari performa tersebut terlihat jelas di klasemen. Preston kini berada di posisi kedua dari bawah Championship dengan koleksi empat poin dari delapan laga. Catatan itu menempatkan mereka dalam situasi darurat yang menuntut perbaikan cepat, bukan sekadar perubahan kecil di sisi teknis.
Setelah jeda internasional, Preston akan menjamu Millwall pada Sabtu, 10 Oktober, dalam laga pertama mereka pasca pergantian pelatih. Pertandingan itu menjadi ujian langsung bagi siapa pun yang akhirnya duduk di kursi manajerial, termasuk bila Alexander yang terpilih. Tekanan untuk meraih poin pun sudah menanti sejak menit pertama.
Ikatan Panjang Graham Alexander dengan Deepdale
Alexander bukan nama asing bagi pendukung Preston. Pelatih berusia 54 tahun itu pernah menjalani dua periode sebagai pemain di Deepdale dan mencatatkan 372 penampilan liga untuk klub tersebut. Rekam jejak sepanjang itu membuat namanya masih diingat sebagai salah satu figur penting dalam sejarah klub.
Ia juga sempat menangani Preston secara caretaker dalam lima pertandingan pada musim 2011-12. Setelah masa singkat itu berakhir, Alexander menutup karier bermainnya bersama Lilywhites pada akhir musim tersebut di usia 40 tahun. Kombinasi pengalaman sebagai pemain dan pelatih sementara inilah yang membuat hubungannya dengan klub terasa istimewa.
Sebagai mantan pemain internasional Skotlandia, Alexander memiliki jam terbang kepelatihan yang cukup luas. Ia pernah memimpin Fleetwood, Scunthorpe, Salford, Motherwell, dan MK Dons sebelum akhirnya menangani Bradford. Portofolio itu menunjukkan bahwa ia terbiasa bekerja di berbagai level kompetisi Inggris dan Skotlandia.
Apa Artinya bagi Bradford City
Kehilangan Alexander di tengah musim akan menjadi pukulan tersendiri bagi Bradford. Saat ini Bantams memuncaki League One dengan lima kemenangan dari tujuh pertandingan pembuka, capaian yang menempatkan mereka sebagai salah satu tim paling konsisten di divisi tersebut.
Alexander mengambil alih kursi pelatih di Valley Parade pada November 2023. Pada musim penuh pertamanya, ia berhasil membawa Bradford promosi dari League Two. Capaian itu menjadi bukti bahwa ia mampu mengubah tim menjadi lebih kompetitif dalam waktu yang relatif singkat.
Pada musim 2025-26, Bradford finis di posisi keempat League One sebelum tersingkir oleh Bolton Wanderers di babak play-off. Dengan fondasi yang sudah terbangun dan posisi puncak klasemen saat ini, manajemen tentu berharap proyek tersebut berjalan utuh. Karena itu, kata “berat hati” dalam pernyataan klub bukan sekadar basa-basi, melainkan gambaran nyata dari risiko yang mereka hadapi.
Peta Persaingan dan Langkah Selanjutnya
Dari sisi Preston, ketertarikan pada Alexander masuk akal karena ia sudah memahami budaya klub dan tidak butuh waktu lama beradaptasi. Kombinasi itu menjadi nilai tambah ketika tim sedang terpuruk dan butuh sosok yang bisa langsung diterima ruang ganti. Dengan tersisa dua kandidat, keputusan final diperkirakan tidak akan terlalu lama.
Sebaliknya, Bradford berada di posisi yang kurang menguntungkan secara negosiasi. Mereka tidak punya kewenangan menahan Alexander jika ia memilih pindah, meski kontraknya masih berjalan. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan klub adalah memastikan proses berjalan transparan dan menyiapkan rencana cadangan bila skenario terburuk terjadi.
Menarik untuk dicermati bagaimana pola perpindahan pelatih antar-divisi seperti ini kian sering terjadi. Klub Championship yang terancam degradasi cenderung mencari pelatih dengan rekam jejak cepat menghasilkan hasil, termasuk dari kasta di bawahnya. Jika Alexander menerima tawaran Preston, ia akan menghadapi tantangan yang jauh berbeda dari misi promosi bersama Bradford.
Pertandingan melawan Millwall pada 10 Oktober menjadi penanda penting sekaligus tenggat tak resmi bagi Preston untuk merampungkan proses seleksi. Sebelum itu, pembicaraan dengan Alexander akan menentukan arah kedua klub. Bagi penggemar, situasi ini layak diikuti karena hasilnya bisa mengubah peta persaingan di dua divisi sekaligus.
Kesimpulan
Bradford City telah memberi Preston North End izin berbicara dengan Graham Alexander, tetapi menegaskan bahwa keputusan itu diambil dengan berat hati. Di sisi lain, Preston membutuhkan pelatih baru secepatnya setelah Paul Heckingbottom didepak menyusul enam kekalahan dalam tujuh laga, sementara tim kini terpuruk di posisi kedua dari bawah Championship.
Faktor kedekatan Alexander dengan Deepdale membuat peluangnya cukup besar, terlebih ia termasuk dua kandidat terakhir. Namun Bradford punya alasan kuat untuk mempertahankannya, mengingat mereka sedang memimpin League One dan proyek yang dibangun sejak November 2023 mulai menunjukkan hasil. Dalam beberapa hari ke depan, pembicaraan antara kedua pihak akan menentukan apakah proyek itu berlanjut atau harus berganti arah.
