30 Tahun Euro 1996: Ceko Siap Kembali ke Wembley

Timnas Republik Ceko akan kembali ke Stadion Wembley, tempat yang menyimpan salah satu momen terbesar dalam sejarah sepak bola mereka, tepat 30 tahun setelah Euro 1996. Dalam jeda internasional kali ini, Ceko menghadapi Inggris dua kali di Grup A3 Liga Negara, yakni di Praha pada Selasa pukul 19.45 waktu setempat dan di London pada 6 Oktober.

Bagi publik Ceko, kunjungan ke London utara bukan sekadar laga tandang biasa. Wembley versi lama dengan dua menara ikoniknya adalah lokasi final Euro 1996 melawan Jerman, pertandingan yang mengubah arah karier banyak pemain sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya. Sejak malam itu, Ceko memang sempat beberapa kali bermain di sana, tetapi lawatan kali ini terasa istimewa karena bertepatan dengan peringatan tiga dekade turnamen tersebut.

30 Tahun Euro 199630 Tahun Euro 1996

Dua Laga Kontra Inggris dan Kembalinya Ceko ke Wembley

Ceko dan Inggris memang tergabung dalam grup yang sama, sehingga kedua tim harus saling berhadapan dua kali. Laga pembuka digelar di Praha, lalu pertemuan kedua bergulir di kandang Inggris pada awal Oktober. Bagi skuad Ceko yang tengah membangun ulang kekuatan, dua bentrokan melawan tim sekaliber Inggris menjadi ujian sekaligus tolok ukur seberapa jauh mereka sudah berkembang.

Namun, lawatan ke London utara jelas punya makna lebih dari sekadar perburuan poin. Wembley yang berdiri sekarang adalah stadion modern yang menggantikan bangunan lama tempat final Euro 1996 digelar, dan justru di situlah nama-nama seperti Patrik Berger, Karel Poborsky, Vladimir Smicer, serta Pavel Nedved melambung. Pertemuan 6 Oktober nanti praktis menjadi peringatan tiga dekade salah satu malam paling bersejarah dalam sepak bola negara itu.

Sejak kekalahan di final dari Jerman, Ceko sudah beberapa kali mengunjungi Wembley dalam berbagai ajang. Meski begitu, tidak ada kunjungan yang terasa seistimewa kali ini karena momentum peringatannya bertepatan dengan laga kompetitif yang penting. Stadion lama bertabur dua menara itu sendiri sudah dibongkar dan digantikan bangunan baru yang jauh lebih sesuai untuk sepak bola abad ke-21.

Kejutan Ceko di Euro 1996: Tim yang Tak Diperhitungkan

Euro 1996 merupakan Piala Eropa pertama yang digelar setelah Cekoslowakia berpisah menjadi Republik Ceko dan Slowakia. Tak seorang pun menduga tim Ceko akan bicara banyak di turnamen itu, termasuk para pemainnya sendiri. Sebagian besar skuad saat itu masih berkarier di liga domestik, dan mereka jelas bukan tim yang masuk daftar favorit.

Beberapa pemain bahkan sudah memesan liburan untuk masa setelah fase grup, yang harus dilalui melawan Jerman, Italia, dan Rusia. Smicer bahkan sudah mengatur jadwal pernikahannya. Berger mengenang bagaimana Jurgen Kohler, rekan setimnya di Borussia Dortmund yang juga anggota skuad Jerman, sama sekali tidak tahu Ceko ikut berlaga di Euro.

“Dia bertanya apa rencana saya untuk musim panas. Saya bilang, ‘Saya akan ke Euro’, dan dia bertanya, ‘Untuk menonton pertandingan?’ Saya jawab, ‘Bukan, kami akan melawan kalian di laga pertama fase grup, lalu kami akan bermain di final.’ Dia pun tertawa,” cerita Berger dalam wawancara dengan podcast Sporting Witness milik BBC.

Kenyataannya, Ceko kalah 2-0 dari Jerman di Old Trafford pada laga pembuka sebelum menumbangkan Italia 2-1 di Anfield. Gol penyama kedudukan Smicer di akhir laga saat imbang 3-3 melawan Rusia — di Anfield yang kelak menjadi kandangnya — cukup untuk meloloskan Ceko, karena Italia gagal mengalahkan Jerman dan laga itu berakhir 0-0.

“Kami tahu kami masih punya kans, tapi kami tidak tahu hasil laga lainnya. Satu menit kami tidak lolos, semenit kemudian kami lolos, jadi kami benar-benar tidak tahu,” ujar Berger. “Setelah peluit akhir, butuh beberapa menit sebelum kami sadar kami lolos ke perempat final.”

Gol Poborsky, Drama Penalti, dan Malam Final di Wembley

Di perempat final lahir salah satu gol paling dikenang dalam sejarah Piala Eropa. Poborsky melambungkan bola melewati kiper Vitor Baia dari tepi kotak penalti, membawa Ceko menang 1-0 atas Portugal di Villa Park. Beberapa minggu kemudian, Poborsky kembali ke Old Trafford sebagai pemain baru Manchester United.

Setelah bermain imbang tanpa gol melawan Prancis di semifinal, Ceko memastikan tempat di final lewat kemenangan 6-5 dalam adu penalti. Eksekutor mereka antara lain Nedved yang kelak meraih Ballon d’Or, Berger, dan Poborsky. Berger mengakui bahwa tekanan mengambil penalti dalam adu tos-tosan bukan hal yang menyenangkan.

“Kamu tidak ingin berada di posisi itu. Kalau ada yang bilang sebaliknya, dia bohong. Tidak ada yang mau mengambil penalti itu,” katanya. Ia menyebut timnya “tidak percaya” bisa mengalahkan Prancis. “Kami sedang hidup dalam mimpi. Perasaan yang luar biasa, momen luar biasa bagi negara. Bisa sampai ke final rasanya seperti keajaiban bagi semua orang.”

Dua hari sebelum final, Smicer pulang ke Praha untuk menikah. Ribuan penggemar Ceko memadati pusat kota untuk merayakannya, tetapi ia harus kembali ke Inggris pada hari yang sama. Di Wembley, Ceko sempat memimpin pada menit ke-59 lewat penalti keras Berger, yang mengaku bukan eksekutor utama laga itu tetapi “bisa melihat tidak ada yang benar-benar ingin mengambil bola tersebut”.

“Satu-satunya yang ada di pikiran saya adalah menendangnya sekeras mungkin ke arah gawang,” ujarnya. Sayangnya bagi Ceko, Oliver Bierhoff menyamakan kedudukan 14 menit kemudian, lalu mencetak gol emas pertama dalam final turnamen besar untuk memastikan kemenangan Jerman.

“Memang bukan takdirnya. Saya ingin sekali menjadi juara Eropa, tapi medali perak bagi kami seperti emas karena membuka pintu bagi banyak dari kami. Itu juga membuka pintu bagi generasi setelah kami. Saya tidak menyesal,” kata Berger. “Berkat Euro 96, karena digelar di Inggris, saya dilirik Liverpool. Ada 100.000 orang menunggu kami di Praha untuk merayakan. Bahkan perak terasa seperti memenangi turnamen bagi kami.”

Warisan Euro 1996 dan Generasi Emas Ceko

Sebagai Cekoslowakia, negara ini pernah menjuarai Piala Eropa 1976 dan dua kali melaju ke final Piala Dunia, yakni pada 1934 dan 1962. Namun, penampilan pertama Republik Ceko sebagai negara merdeka di Euro 1996 hingga kini tetap menjadi satu-satunya final yang pernah mereka capai. Sejak itu, prestasi terbaik mereka adalah menembus semifinal pada 2004 serta perempat final pada 2012 dan 2021.

Skuad 2004 memadukan pemain muda seperti Petr Cech, Milan Baros, dan Tomas Rosicky dengan sosok senior macam Smicer, Berger, dan Poborsky. Langkah mereka terhenti di semifinal oleh Yunani, tim yang akhirnya menjuarai turnamen tersebut. Sejak itu pula, dua penampilan Piala Dunia mereka, pada 2006 dan 2026, sama-sama berakhir di fase grup.

Wartawan sepak bola asal Praha, Ondrej Zlamal, menilai tim 2004 dan cara mereka bermain “bahkan lebih baik” daripada generasi 1996. “Generasi dengan Nedved dan kawan-kawan itu mencapai puncaknya pada 2004 dan kami merasa seharusnya bisa menjuarai Euro. Kami bermain lebih baik daripada 1996. Itu jadi sorotan kedua dari generasi emas,” ujarnya.

Menurut Zlamal, penampilan Ceko pada Piala Dunia musim panas ini benar-benar mengecewakan. Ia punya jawaban sederhana soal mengapa tim ini belum mampu menyamai capaian masa lalu. “Kami tidak punya pesepak bola seberbakat dulu. Kami tidak punya cukup banyak pemain di klub-klub top seperti sebelumnya,” katanya.

Zlamal juga mengenang pengalaman masa kecilnya. “Ketika saya berusia enam tahun, saya menonton final 1976 yang dimenangkan Cekoslowakia, dan ayah saya bilang, ‘Ingat ini karena kamu tidak akan melihatnya lagi.’ Saya tidak percaya generasi ini bisa mencapai kesuksesan seperti itu karena kompetisi dan sepak bola sekarang jauh lebih besar. Keajaiban bisa terjadi dan mungkin ada generasi baru yang mengejutkan seperti 1996, tapi saya tidak percaya itu akan terulang,” tuturnya.

Santi Denia dan Awal Era Baru Timnas Ceko

Timnas Ceko kini memasuki babak baru di bawah asuhan Santi Denia, orang Spanyol yang menjadi pelatih asing pertama dalam sejarah tim nasional mereka. Skuad pertamanya, yang disiapkan untuk laga Liga Negara melawan Kroasia, Inggris, dan Spanyol, memuat tujuh pemain tanpa caps atau baru mengoleksi satu caps. Menariknya, tak satu pun dari mereka berusia di bawah 22 tahun.

Komposisi itu menunjukkan bahwa Denia sedang mencari keseimbangan antara penyegaran dan pengalaman, bukan sekadar mengandalkan pemain muda. Tantangan terbesarnya adalah menemukan formula yang bisa mengembalikan Ceko ke level kompetitif di Eropa, di tengah persaingan yang jauh lebih ketat dibanding era 1990-an.

Tiga puluh tahun setelah Berger, Smicer, Poborsky, dan Nedved merasakan pahitnya kekalahan di London utara, stadion tua itu sudah lama digantikan Wembley baru yang megah. Denia dan anak asuhnya boleh dibilang tidak akan menemukan panggung yang lebih buruk untuk menyampaikan sebuah pernyataan bahwa tim ini siap bangkit.

Kembalinya Ceko ke Wembley pada 6 Oktober nanti bukan hanya soal dua laga Liga Negara melawan Inggris. Ini adalah momen untuk mengenang salah satu pencapaian terbaik sepak bola Ceko sekaligus mengukur seberapa jauh mereka telah bergerak sejak malam final Euro 1996. Tekanan sejarah itu kini berada di pundak generasi baru bersama pelatih asing pertama mereka.

Mimpi untuk mengulang keajaiban 1996 memang tidak mudah, seperti diakui para pelaku dan pengamat di dalamnya sendiri. Meski begitu, bermain di Wembley selalu memberi kesempatan bagi sebuah tim untuk menulis babak baru, dan Ceko kini punya alasan kuat untuk mencobanya lagi.