Andoni Iraola Ungkap Rahasia Sukses Pelatih Spanyol: Kekuatan Kolektivitas

Andoni Iraola, pelatih baru Liverpool, membagikan pandangannya tentang faktor utama di balik dominasi pelatih asal Basque dan Spanyol di panggung sepak bola global. Dalam kesempatan wawancara di Chicago, ia menekankan bahwa kunci keberhasilan bukanlah bakat individu, melainkan kekuatan kolektif. Filosofi ini akan menjadi fondasi pendekatannya sebagai nahkoda Liverpool, sekaligus usahanya mengembalikan koneksi, kegembiraan, dan keyakinan di Anfield.

Filosofi Kolektivitas ala Andoni Iraola

Menurut Iraola, banyak yang bertanya mengapa pelatih asal Basque, khususnya dari wilayah kecil Gipuzkoa, mampu mendominasi level tertinggi. Saat ini, empat pelatih dari Gipuzkoa—Iraola sendiri, Mikel Arteta, Xabi Alonso, dan Unai Emery—akan menangani empat klub papan atas Premier League musim depan. Jawabannya sederhana: rasa kebersamaan yang kuat.

Andoni Iraola Andoni Iraola

“Spanyol tidak pernah memiliki atlet terbaik secara individu. Dalam olahraga individu seperti renang, tinju, atau atletik, Spanyol jarang meraih medali. Tapi dalam olahraga tim—sepak bola, basket, bola tangan, hoki—mereka sangat baik. Kami selalu mengutamakan tim,” ujar Iraola. Ia mencontohkan Rodri, yang tidak mencetak gol atau assist di Piala Dunia, namun menjadi pemain terbaik turnamen karena kontribusinya untuk tim. Nilai tim-pertama ini sudah tertanam sejak kecil.

Pendekatan Andoni Iraola ini tercermin dalam cara ia menyikapi pertanyaan tentang surat yang ia kirim ke Liverpool pada 2014. Saat itu, sebagai kapten Athletic Club, ia menolak tawaran Brendan Rodgers dengan surat sopan. Meski pertanyaan itu seperti “open goal” untuk memenangkan hati fans baru, Iraola memilih tidak menjawab. “Saya tidak ingin bercerita terlalu awal. Saya ingin menang beberapa pertandingan dulu. Jika Anda mengingat saya beberapa bulan lagi, silakan tanya lagi. Saya tidak ingin terlihat seperti menjual diri,” jelasnya.

“Jangan Jadi Protagonis” – Prinsip Kepelatihan Iraola

Sikap rendah hati Iraola tercermin dalam ucapannya: “Jangan menjadi protagonis.” Ia meyakini bahwa sepak bola adalah tentang pemain, bukan pelatih. Ketika pertama kali di Inggris, ia tidak ikut bertepuk tangan kepada suporter setelah pertandingan—kebiasaan di Spanyol adalah membiarkan pemain yang melakukannya. Namun stafnya mengingatkan bahwa di Inggris pelatihlah yang mendekati fans. Iraola pun menyesuaikan diri. “Saya selalu bilang kami adalah asisten para pemain. Merekalah yang utama. Hanya mereka yang bisa memberi kami kesuksesan. Kami tidak sepenting mereka,” tegasnya.

Namun, filosofi kolektivitas ini terasa relevan dengan kondisi Liverpool musim lalu, ketika kekuatan individu lebih dominan dibanding tim. Mohamed Salah beberapa kali terlihat melemahkan wewenang pelatih juara sebelumnya. Iraola mengakui bahwa ia tidak bisa mengubah kepribadian pemain, tapi ia percaya pentingnya pemahaman bersama. “Sebagai pemain, Anda selalu egois—ingin bermain, ingin statistik, ingin menit bermain penuh. Tapi harus ada pengertian bahwa hal itu tidak selalu terjadi, dan Anda tetap harus membantu rekan setim dan tim,” katanya.

Hubungan dengan Klub dan Suporter

Iraola melihat banyak kesamaan antara Athletic Club, klub masa kecilnya, dan Liverpool. “Ini salah satu klub terbesar di dunia, dan meski perbandingan dengan Athletic mungkin tidak adil, dalam banyak hal saya melihat kesamaan: rasa memiliki, menjadi sedikit berbeda, koneksi dengan pemain akademi, dan atmosfer Anfield.”

Ia juga berkomitmen untuk menyatu dengan kota Liverpool—bahkan sudah mengunjungi beberapa tempat wisata saat masih menjadi pemain Athletic. “Saya pernah ke Liverpool saat libur internasional November, saat pasar Natal, bersama istri. Itu kenangan indah.”

Soal proses meninggalkan Bournemouth, Iraola menyebutnya “sangat bersih”. Ia baru mulai mempertimbangkan langkah selanjutnya setelah musim lalu berakhir dengan Bournemouth lolos ke Eropa untuk pertama kalinya. Proses menjadi pengganti Arne Slot ternyata cepat. “Mereka menghubungi saya, dan tidak butuh waktu lama untuk mengatakan ya kepada Liverpool kali ini,” ungkapnya.

Lagu Khas dari Suporter dan Adaptasi Budaya

Tak butuh waktu lama bagi suporter Liverpool untuk menciptakan lagu khas untuk Iraola, yang dinyanyikan dengan nada lagu tentang relawan Irlandia dalam perang saudara Spanyol. Ia terkejut saat diberi tahu. “Lagu baru? Ini situasi aneh karena saya selalu paham sepak bola tentang pemain. Di Inggris, manajer yang pergi ke fans; saya sudah melakukannya setiap kali. Ini hal budaya yang harus dipelajari ketika datang ke liga baru.”

Iraola menekankan bahwa kekuatan kolektif harus dipulihkan di Liverpool. “Hal pertama yang harus kami lakukan adalah bermain bagus, tapi bukan hanya itu. Suporter harus bisa mengidentifikasi apa yang mereka lihat di lapangan. Kadang bukan hanya tendangan ke sudut gawang. Penonton bisa berlari, bertarung merebut bola, menekan, berjuang sampai garis akhir. Ketika mereka melihat itu dari pemain timnya, mereka lebih mudah mendukung. Saya akan mendorong tim untuk memberikan hal-hal itu.”

Dengan pendekatan yang mengutamakan tim dan kerendahan hati, Andoni Iraola membawa angin segar ke Liverpool. Fans berharap filosofi kolektivitas ini mampu mengembalikan kejayaan klub, dimulai dari laga perdana melawan Sunderland di Nashville.