Brazil Piala Dunia 2026 berakhir lebih awal dari yang diharapkan. Kekalahan telak dari Norwegia di babak gugur bukan sekadar hasil buruk—ini sinyal bahwa tim Samba butuh perombakan besar-besaran. Carlo Ancelotti, pelatih yang datang dengan reputasi mentereng, kini dihadapkan pada pertanyaan besar: mampukah dia membangun kembali skuad yang mulai menua dan kehilangan identitas?
Mengapa Brazil Gagal Total di Piala Dunia 2026?
Empat tahun lalu Brazil tersingkir di perempat final oleh Kroasia. Empat tahun sebelumnya, mereka juga kandas di tangan Belgia. Namun kali ini, kekalahan dari Norwegia tidak bisa disebut apes—tim benar-benar tampil buruk. Lini tengah, yang dulu menjadi pusat kreativitas, kini menjadi titik lemah paling kritis.
Masalah Kronis di Lini Tengah
Brazil kalah dalam penguasaan bola dan umpan-umpan dari Norwegia. Fakta bahwa mereka dikalahkan oleh tim yang tidak pernah dianggap sebagai raksasa sepak bola menunjukkan betapa parahnya masalah di sektor sentral. Ancelotti bergantung pada Casemiro untuk memberi struktur, tetapi pemain berusia 34 tahun itu rentan di ruang terbuka. Bahkan sejak menit kedua, Norwegia hampir mencetak gol melalui celah di lini belakang.


Ketidakhadiran Lucas Paqueta akibat cedera membuat situasi makin pelik. Ancelotti mengaku tidak punya pemain lain dengan karakteristik serupa. Alhasil, ia memasukkan Gabriel Martinelli yang justru membuat serangan Brazil hanya mengandalkan serangan balik cepat. Keputusan awal sang pelatih untuk hanya membawa lima gelandang dalam skuad pun menuai kritik. Ketika bek kanan Wesley cedera, ia malah memanggil Ederson—sosok yang lebih cocok sebagai gelandang bertahan.
Neymar: Akhir dari Sebuah Era
Keputusan paling kontroversial adalah memanggil Neymar. Padahal Ancelotti sebelumnya berjanji hanya akan memanggil pemain yang benar-benar layak dan fit. Namun tekanan publik membuatnya melanggar semua garis merah. Neymar tampil seperti pemain pensiunan yang ikut main amal. Ia tidak memiliki mobilitas untuk bertahan, sehingga harus ditempatkan sebagai penyerang tengah. Akibatnya, Vinicius Jr dan Endrick terdorong ke sisi lapangan—jauh dari gawang lawan. Ini membuka celah bagi Norwegia untuk memberi umpan matang kepada Erling Haaland. Neymar mencetak gol dari penalti, tapi seharusnya ia sudah diusir keluar lapangan karena tendangan liar. Dalam wawancara usai laga, Neymar mengisyaratkan pensiun dari tim nasional: “Saya mencoba, saya mencoba… sekarang sudah selesai!”
Peran Carlo Ancelotti: Penyelamat atau Beban?
Ancelotti tiba setelah kekalahan 4-1 dari Argentina pada Maret tahun lalu. Dari 16 laga, ia meraih 10 menang, 3 seri, dan 3 kalah. Ia sempat membalikkan keadaan tim yang kesulitan di kualifikasi. Namun di Piala Dunia 2026, hasil itu tidak cukup. Brazil Piala Dunia 2026 membutuhkan operasi besar, dan pertanyaan utamanya adalah apakah Ancelotti bisa menjadi dokter bedah yang tepat.
Keputusan Kontroversial Ancelotti
Kesalahan terbesar Ancelotti adalah komposisi skuad. Hanya lima gelandang untuk turnamen sebesar ini adalah kelalaian serius. Selain itu, ia memaksakan Neymar meskipun semua bukti menunjukkan sang bintang sudah tidak layak. Ancelotti sendiri mengakui bahwa Neymar hanya akan dipanggil jika pantas, namun realitas di lapangan berkata lain.
Sisi positif dari kehadiran Ancelotti adalah ia mampu memberi struktur dengan memulangkan Casemiro. Bruno Guimaraes pun tampil cemerlang, meski gagal mengeksekusi penalti dini yang krusial melawan Norwegia. Namun, pola bertahan Brazil yang cenderung mundur dan membiarkan lawan menguasai bola membuat mereka kehilangan kepercayaan diri.
Masa Depan Tim Samba
Setelah kekalahan, Ancelotti bersikeras bahwa ini bukan akhir, melainkan awal siklus baru. Kontrak jangka panjangnya membuat ia masih punya waktu untuk membangun ulang tim. Namun, Brazil sedang mengalami krisis produksi pemain tengah berkualitas. Negara ini lebih banyak melahirkan penyerang sayap daripada gelandang kreatif. Untuk menatap kualifikasi Piala Dunia 2030—yang sebenarnya cukup mudah karena Argentina, Paraguay, dan Uruguay sudah lolos sebagai tuan rumah—Brazil harus segera merevolusi sistem pembinaan pemain.
Kesimpulan: Apakah Ancelotti Tetap Jadi Solusi?
Ancelotti adalah “fixer” ulung di Eropa. Ia bisa merapikan tim dengan sentuhan taktis dan pengalaman. Namun kegagalan di Brazil Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa tim ini membutuhkan lebih dari sekadar tambalan. Perombakan total di lini tengah, regenerasi pemain bintang, dan perubahan mentalitas menjadi harga mati. Apakah Ancelotti orang yang tepat untuk memimpin revolusi itu? Atau Brazil perlu mencari pelatih baru yang lebih segar? Waktu akan menjawab, tetapi satu hal pasti: Tim Samba tidak akan kembali ke puncak tanpa perubahan radikal.
