Scott Parker kini berada di garis terdepan sebagai kandidat pelatih baru West Ham United setelah klub itu memutuskan berpisah dengan Nuno Espirito Santo. Dukungan datang dari mantan rekan setimnya, kiper senior Rob Green, yang menilai rekam jejak Parker dalam mengantar tim promosi dari Championship sebagai alasan paling logis mengapa pria berusia 46 tahun itu layak dipercaya menangani Hammers.
Green bukan sosok asing di London Stadium. Ia pernah menjaga gawang West Ham dan sempat menjadi rekan satu tim Parker, sehingga penilaiannya soal karakter serta kemampuan sang calon pelatih cukup berbobot. Baginya, keputusan klub untuk beralih ke Parker bukan sekadar mencari nama besar, melainkan soal siapa yang paling paham cara mengeluarkan West Ham dari kerasnya kompetisi kasta kedua Inggris.


Tekanan di Kursi Pelatih West Ham
Pemecatan Nuno menjadi pemicu utama dinamika ini. Manajemen West Ham kehilangan kesabaran setelah melihat start musim yang jauh dari harapan, tepat setelah klub terdegradasi dari Premier League pada musim sebelumnya. Posisi pelatih pun otomatis menjadi salah satu kursi paling panas di Championship saat ini.
Dalam kondisi seperti itu, West Ham disebut-sebut mengarahkan pandangan ke Parker. Ia bukan orang baru di klub, karena pernah menjadi pemain dan tercatat tiga kali meraih gelar pemain terbaik klub. Kedekatan emosional dengan suporter menjadi nilai tambah yang tidak dimiliki banyak kandidat lain.
Yang membuat namanya semakin kuat adalah catatan kerjanya di bangku cadangan. Parker tercatat mampu membawa Fulham, Bournemouth, dan Burnley naik ke Premier League. Tiga klub berbeda, satu pola keberhasilan yang sama: ia tahu betul bagaimana membangun tim yang efisien untuk lolos dari Championship.
Rob Green: Rekam Jejak Promosi Parker Sudah Terbukti
Green menegaskan bahwa kemampuan Parker mempromosikan tim bukanlah klaim kosong. Menurutnya, hasil di lapangan selama beberapa musim terakhir sudah cukup menjadi bukti bahwa pria itu paham betul tuntutan kompetisi kasta kedua. Ia pun menyampaikan pandangan tersebut kepada BBC Radio London.
“Scott sudah menunjukkan rekam jejak yang terbukti dalam mengantar tim promosi,” ujar Green. Ia menyadari bahwa gaya bermain Parker kerap menjadi bahan kritik, terutama dari mereka yang menginginkan sepak bola atraktif. Namun Green menilai sang pelatih punya jawaban sederhana: yang terpenting adalah tim tahu persis apa yang harus dilakukan untuk naik kasta.
Green juga menyoroti kualitas skuad West Ham saat ini. Menurutnya, materi pemain yang ada begitu melimpah sehingga klub seharusnya tetap bisa promosi apa pun gaya yang dipakai. Baginya, urutan prioritasnya jelas: masuk ke Premier League dulu, bertahan di sana, baru memikirkan soal estetika permainan.
Ia bahkan menyebut potensi serangan West Ham sebagai modal besar bagi Parker. “Beri dia pemain-pemain bertalenta di lini depan itu, dan dia bisa memberikan fondasi yang sangat bagus untuk melangkah maju,” kata Green. Dari sudut pandangnya, kombinasi antara materi pemain dan pengalaman promosi Parker membuat penunjukan itu terasa sangat masuk akal.
Kronologi Kejatuhan West Ham dan Pergantian Pelatih
Untuk memahami mengapa kursi pelatih kembali kosong, perlu dilihat perjalanan klub dalam dua tahun terakhir. West Ham sudah beberapa kali berganti pelatih permanen sejak David Moyes meninggalkan London Stadium pada Mei 2024. Pemecatan Nuno membuat klub kini mencari manajer permanen keempatnya dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Padahal, harapan sebelum musim bergulir cukup tinggi. Setelah turun dari Premier League, West Ham dianggap sebagai salah satu favorit utama untuk promosi otomatis. Realitas di lapangan berkata lain: klub kini tertahan di posisi kedelapan klasemen, terpaut enam poin dari pemuncak klasemen Middlesbrough.
Tren performa juga tidak membantu. Dari enam pertandingan terakhir, West Ham hanya mampu meraih dua kemenangan. Yang lebih menyakitkan, mereka menelan dua kekalahan beruntun di kandang sendiri, yaitu kalah 2-3 dari Southampton dan kemudian tumbang 1-3 saat menjamu West Bromwich Albion pada Sabtu. Rentetan hasil itulah yang akhirnya memicu keputusan manajemen mencopot Nuno.
Debat Gaya Bermain versus Hasil
Isu yang paling sering muncul ketika nama Parker disebut adalah soal gaya bermain. Green tidak menutup mata bahwa ada pihak yang menganggap pendekatan Parker terlalu pragmatis, kurang menghibur, dan tidak cukup imajinatif untuk memuaskan penonton. Kritik semacam itu wajar muncul di klub sebesar West Ham, yang punya tradisi sepak bola menyerang.
Namun Green membalik logikanya. Menurut dia, Parker punya jawaban yang sangat gamblang: timnya tahu apa yang harus dilakukan untuk promosi. Dalam konteks Championship yang panjang, melelahkan, dan penuh pertandingan fisik, efektivitas sering kali lebih menentukan daripada keindahan. Klub-klub yang terlalu fokus pada estetika permainan tanpa diimbangi hasil biasanya justru tersesat di papan tengah.
Green menambahkan satu syarat penting: setelah promosi tercapai, barulah pembenahan gaya main menjadi agenda utama. Selama masih di kasta kedua, menurutnya, prioritas harus diberikan pada cara tim meraih kemenangan. Pandangan ini mencerminkan cara berpikir khas pemain yang pernah merasakan langsung kerasnya kompetisi Inggris, di mana hasil akhir selalu menjadi ukuran tertinggi.
John Moncur Soroti Keputusan Melepas Moyes
Mantan pemain West Ham lainnya, John Moncur, memberikan perspektif berbeda namun tetap mendukung Parker. Kepada BBC Radio London, ia menilai klub sebenarnya tidak perlu berada dalam situasi seperti sekarang jika saja Moyes dipertahankan. Menurutnya, Moyes adalah tipe manajer yang tidak akan membiarkan hal-hal buruk terjadi begitu saja tanpa kendali.
Meski begitu, Moncur tetap melihat Parker sebagai sosok yang cocok. “Dia sudah melakukan pekerjaan bagus di klub lain, dia tahu klub ini luar dalam, dan sepertinya memang pas,” ujarnya. Kedekatan Parker dengan West Ham dinilai bisa mempercepat proses adaptasi, termasuk dalam membangun hubungan dengan ruang ganti dan suporter.
Moncur juga mengingatkan bahwa pendukung West Ham bukan penonton yang mudah dibohongi. Menurutnya, mereka penggemar yang terdidik dan cepat menilai apakah sesuatu di lapangan berjalan dengan benar. Parker diyakini sudah memahami tekanan itu, sehingga ia tidak akan datang dengan janji-janji kosong.
Bagi Moncur, kuncinya tetap keseimbangan. Bermain sepak bola indah tidak ada artinya jika pertandingan tetap berakhir dengan kekalahan. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Green soal prioritas hasil, sekaligus menunjukkan bahwa kedua mantan pemain klub tersebut melihat Parker sebagai figur yang realistis menghadapi kondisi West Ham saat ini.
Apa Artinya bagi West Ham dan Peta Persaingan Championship
Jika Parker benar-benar ditunjuk, dampaknya akan terasa pada beberapa lapisan. Dari sisi internal, kedatangan sosok yang pernah menjadi ikon klub bisa meredakan ketegangan di antara suporter yang kecewa dengan rentetan hasil buruk. Namun sekaligus muncul ekspektasi tinggi, karena rekam jejak promosinya membuat publik sulit menerima target selain naik kasta.
Dari sisi kompetisi, penunjukan tersebut akan menegaskan pola pikir sejumlah klub Championship yang cenderung memilih pelatih dengan spesialisasi promosi. Kesuksesan Parker di Fulham, Bournemouth, dan Burnley menjadikannya nama yang diperhitungkan dalam kategori ini. Bagi West Ham, memilih pelatih seperti itu berarti menerima pendekatan yang menempatkan hasil di atas gaya bermain.
Yang menjadi tantangan adalah selisih enam poin dari Middlesbrough yang masih mungkin dikejar, tetapi tidak menyisakan banyak ruang untuk kesalahan. Dengan dua kekalahan kandang beruntun sebagai bekal, pelatih baru harus segera menstabilkan pertahanan dan memulihkan kepercayaan diri pemain. Waktu adaptasi akan sangat pendek, dan itulah risiko yang harus ditanggung siapa pun yang duduk di kursi itu.
Kesimpulan
Posisi Scott Parker sebagai kandidat kuat pelatih West Ham lahir dari kombinasi yang jarang ditemui: kedekatan sejarah dengan klub dan rekam jejak nyata dalam mengantar tiga klub berbeda promosi ke Premier League. Dukungan dari Rob Green maupun John Moncur menunjukkan bahwa dalam lingkungan sepak bola, kemampuan mendatangkan hasil sering kali lebih dihargai daripada gaya permainan yang memikat.
Bagi West Ham, keputusan ini bukan hanya soal memilih nama, tetapi soal menentukan arah: mengejar promosi dengan pendekatan yang pragmatis dan terukur. Jika Parker ditunjuk, ia akan diuji apakah pengalaman promosinya bisa bekerja di klub yang tekanan publiknya jauh lebih besar. Jawabannya hanya akan terlihat di lapangan.
