Penalti Newport County menjadi sorotan karena catatannya adalah yang terburuk di seluruh English Football League (EFL). Dalam dua musim terakhir, mereka hanya mampu mengonversi dua dari sembilan penalti di semua kompetisi, dan cuma satu dari enam kesempatan di League Two. Angka itu setara dengan tingkat keberhasilan 16,7 persen, sangat jauh di bawah rata-rata liga yang biasanya berada di kisaran tiga perempat atau sekitar 75 persen.
Bagi klub sekelas Newport, rekor ini bukan sekadar statistik yang lucu untuk dibahas di media sosial. Posisi mereka di klasemen sedang kompetitif, hanya terpaut dua poin dari zona play-off, sehingga setiap peluang dari titik putih punya bobot yang besar. Alih-alih bersorak ketika wasit menunjuk titik putih, pendukung Newport kini lebih sering menahan napas karena tahu betul betapa rapuhnya penyelesaian tim mereka.


Seberapa Buruk Rekor Penalti Newport County?
Data dua musim terakhir memberi gambaran yang jelas dan cukup memilukan. Dari sembilan penalti di seluruh kompetisi, hanya dua yang berbuah gol, dan di kompetisi liga angkanya bahkan lebih buruk lagi, yakni satu dari enam. Persentase 16,7 persen itu menempatkan Newport di dasar seluruh EFL, liga yang dihuni puluhan klub profesional dengan standar eksekusi yang relatif mapan.
Yang membuat masalah ini terasa rumit adalah karena penyebabnya tidak tunggal. Tiga manajer berbeda dan sejumlah pemain sudah bergantian mencoba memecahkan kebuntuan, tetapi hasil akhirnya nyaris selalu sama. Pergantian pelatih, pergantian eksekutor, hingga perubahan arah tembakan belum mampu mengembalikan naluri mematikan Newport dari titik putih.
Kegagalan itu juga tidak terjadi di kompetisi yang bisa dianggap remeh. League Two adalah liga yang ketat, di mana selisih satu gol sering menentukan nasib sebuah klub selama satu musim penuh. Dengan posisi tim yang menempel ketat papan atas, setiap penalti yang terbuang terasa seperti kehilangan poin yang seharusnya sudah di kantong.
Kronologi: Harapan Biggins yang Sirna dalam Empat Hari
Harrison Biggins sempat memberi harapan bahwa tren buruk itu akan berakhir. Pada laga imbang melawan Rotherham di bulan Oktober, ia sukses menaklukkan kiper dari titik putih. Gol itu terasa seperti titik balik, bukti bahwa Newport masih bisa memanfaatkan peluang emas yang datang kepada mereka.
Namun empat hari kemudian, optimismenya menguap begitu saja. Biggins kembali maju sebagai eksekutor saat Newport menghadapi Cheltenham Town, memilih sisi yang sama seperti sebelumnya, dan kali ini tembakannya berhasil dibaca serta dihalau kiper. Newport pun kalah 1-0, dan satu penalti yang terbuang langsung berubah menjadi kekalahan.
Manajer Hayden Mullins menolak menyalahkan Biggins atas kegagalan tersebut. Pria berusia 47 tahun itu mengaku paham betul tekanan yang dirasakan pemainnya karena ia sendiri pernah menjalankan tugas serupa semasa aktif sebagai pesepak bola. “Kami tidak pernah menyalahkan siapa pun yang berani maju mengambil penalti,” ujar Mullins.
Menurutnya, penalti selalu menjadi duel yang sulit dan penuh tipu daya. “Penalti selalu berat. Harrison mencetak gol di laga sebelumnya, tetapi ini benar-benar permainan kucing-kucingan antara kamu dan kiper. Kamu tidak tahu apa yang dipikirkan kiper; yang bisa kamu lakukan hanyalah memilih satu sisi dan mengeksekusinya dengan agresif,” jelasnya.
Pola yang Terbaca: Kiper Lawan Selalu Menebak Arah
Meski pemain tidak mungkin membaca isi kepala kiper, deretan penalti terbaru Newport justru memberi petunjuk yang sangat gamblang bagi lawan. Enam dari sembilan penalti terakhir diarahkan ke sisi kanan, dan pada setiap kesempatan kiper lawan menebak dengan benar. Cameron Antwi, Nathaniel Opoku, Bobby Kamwa, dan Shaquille Gwengwe semuanya gagal, dengan hanya eksekusi Biggins di Rotherham yang berhasil masuk.
Ketika Newport mencoba mengubah pendekatan, hasilnya juga tak jauh berbeda. Ged Garner dihalau kiper saat mengarahkan bola ke sisi kiri dalam laga melawan Swindon Town, sementara Yahya Bamba yang membidik pojok atas justru dianulir karena bola tersentuh dua kali. Bamba baru berhasil pada penalti ulangan setelah ia menunggu kiper bergerak lebih dulu, pendekatan yang lebih sabar dan membaca situasi.
Pola yang terlalu mudah dibaca ini menjelaskan mengapa masalah Newport bukan semata soal teknik menendang. Ketika arah tembakan bisa diprediksi, kiper lawan punya keunggulan psikologis sebelum bola ditendang. Variasi arah, kecepatan, serta keberanian menahan bola lebih lama menjadi hal yang tampaknya perlu segera dibenahi jika tren ini ingin diputus.
Dampak bagi Perburuan Play-off
Kegagalan dari titik putih terasa jauh lebih mahal karena posisi Newport sedang menempel ketat area play-off. Dengan hanya terpaut dua poin, selisih sekecil apa pun bisa menentukan apakah mereka bertahan di jalur promosi atau justru terpeleset ke papan tengah. Dalam liga yang ketat, dua atau tiga penalti yang seharusnya menjadi gol bisa menjadi pembeda di akhir musim.
Selain soal angka, ada dampak psikologis yang sulit diukur tetapi nyata. Setiap kegagalan menambah beban bagi pemain yang maju sebagai eksekutor berikutnya, sehingga keberanian mengambil tanggung jawab bisa menurun. Keraguan itu kemudian menular ke seluruh tim dan membuat momen-momen kecil seperti penalti terasa seperti ujian besar.
Tekanan juga otomatis mengarah ke bangku pelatih. Dalam pemberitaan terpisah, Jenkins menilai Mullins belum mendapat kredit yang cukup atas pekerjaannya di klub ini. Artinya, catatan penalti yang buruk berpotensi menjadi bahan kritik yang mengaburkan penilaian terhadap kinerja tim secara keseluruhan.
Latihan, Teknik, dan Pendekatan Mullins
Mullins punya pengalaman pribadi soal mengeksekusi penalti dari masa bermainnya bersama Crystal Palace, West Ham, dan Portsmouth. Ia mengaku pernah memakai cara sederhana: berlari dengan satu mata tetap mengawasi kiper, lalu menembak ke arah sebaliknya. “Saya tahu betapa sulitnya. Setiap orang punya tekniknya sendiri,” katanya, seraya menegaskan bahwa cara itu tetap menuntut keberanian.
Newport sebenarnya tidak selalu bermasalah dari titik putih. Antara 2023 hingga 2025, mereka mencetak 10 dari 13 penalti melalui dua penyerang, Will Evans dan Omar Bogle. Fakta itu menunjukkan bahwa kemampuan eksekusi bukan hal yang asing bagi klub, dan masalah yang sekarang terjadi lebih bersifat situasional ketimbang struktural.
Mullins sendiri lebih suka menyerahkan tanggung jawab tunggal kepada penyerang tengahnya. Namun ia sempat kehilangan Shaquille Gwengwe selama tiga pertandingan karena hukuman larangan bermain, dan justru dalam rentang itu Newport melewatkan dua penalti. Gwengwe kini tersedia lagi, sudah mencetak enam gol musim ini, dan disebut rutin berlatih penalti “dalam waktu lama” setelah sesi latihan usai.
Meski begitu, sang manajer menegaskan tidak akan menghabiskan terlalu banyak energi untuk mengkhawatirkan rekor buruk tersebut. “Penalti bergantung pada banyak hal, kelelahan, kondisi mental, di mana kamu berada, di depan siapa kamu mengambilnya, bagaimana perasaanmu saat itu, dan siapa lawanmu,” ujarnya. “Kami bisa mengevaluasi dan berlatih sebanyak mungkin. Kami akan siap untuk kesempatan berikutnya dan semoga hasilnya berpihak pada kami.”
Yang Bisa Dibaca dari Masalah Ini
Kisah Newport menunjukkan bahwa penalti bukan sekadar soal keterampilan menendang bola, melainkan gabungan antara kebiasaan, keberanian, dan kemampuan membaca situasi. Ketika arah tembakan terlalu sering sama, kiper lawan cukup mempelajari rekaman pertandingan untuk mendapat keuntungan. Sebaliknya, variasi dan ketenangan saat menahan bola bisa menjadi pembeda yang cukup besar.
Yang menarik, masalah ini muncul di musim ketika Newport justru sedang bersaing di jalur play-off. Artinya, perbaikan kecil di titik putih bisa memberi dampak yang tidak kecil pada target akhir musim, termasuk dalam laga-laga ketat yang akan datang. Jika tren ini berbalik, catatan buruk yang sekarang jadi bahan perbincangan bisa dengan cepat terlupakan.
Bagi pembaca yang mengikuti League Two, kasus ini menjadi pengingat bahwa detail sekecil penalti bisa menentukan arah sebuah musim. Newport masih punya waktu untuk memperbaiki diri, dan kesempatan berikutnya dari titik putih akan menjadi ujian nyata apakah pelajaran dari sembilan kegagalan itu sudah benar-benar dipahami.
