Tony Bloom Yakin Hearts Juara Liga Skotlandia 2035

Tony Bloom menegaskan bahwa ia akan merasa “sangat kecewa” apabila Hearts gagal menjuarai Scottish Premiership sebelum tahun 2035. Komitmen pemilik 29% saham klub Edinburgh itu bukan sekadar wacana, melainkan target yang ia pasang sejak resmi masuk ke jajaran pemegang saham pada Juni 2025, ketika ia juga menyatakan ambisi membawa Hearts ke puncak klasemen dalam kurun satu dekade.

Pernyataan tersebut disampaikan pria yang juga menjabat sebagai chairman Brighton itu kepada Sky Sports, tepat di tengah persiapan Hearts untuk bertandang ke markas Celtic. Bagi klub yang sudah lama hidup di bayang-bayang dua raksasa Glasgow, target semacam ini bukan hal kecil. Hearts sendiri sempat menyeruak sebagai penantang serius musim lalu, tetapi harus menerima kenyataan pahit pada laga terakhir. Kegagalan itu justru menjadi titik tolak mengapa Bloom berbicara ulang soal ambisi gelar, bukan sekadar menutupi kekecewaan.

Tony Bloom Tony Bloom

Tekad Bloom dan Target Sepuluh Tahun untuk Hearts

Saat menuntaskan pembelian 29% saham Hearts pada Juni 2025, Bloom berjanji akan “mengganggu pola dominasi yang sudah berlangsung terlalu lama”. Kalimat itu bukan retorika kosong, karena ia sekaligus menyebut tenggat sepuluh tahun sebagai kerangka waktu yang ia anggap realistis. Artinya, bagi Bloom, juara liga pada 2035 adalah batas paling akhir yang bisa ia terima.

Ketika diingatkan kembali soal target awal tersebut, ia menjawab dengan nada tegas. “Saya akan sangat kecewa jika Hearts belum menjuarai Scottish Premiership dalam 10 tahun itu,” ujarnya. Pernyataan itu memperjelas bahwa ekspektasinya tidak berubah meski musim lalu berakhir dengan cara yang menyakitkan.

Dengan menyebut diri akan “sangat kecewa” alih-alih sekadar berharap, Bloom memindahkan beban pembuktian ke dalam klub. Ia menempatkan diri sebagai pemilik yang mengukur keberhasilan dari trofi, bukan dari kemajuan bertahap semata. Ini penting bagi Hearts, karena tekanan publik terhadap manajemen akan mengikuti standar yang ia tetapkan sendiri.

Musim Lalu: 250 Hari di Puncak, Lalu Runtuh di Celtic Park

Hearts sebenarnya nyaris mengakhiri penantian gelar sejak 1960. Sepanjang musim lalu, mereka memimpin klasemen selama 250 hari, sebuah catatan yang menunjukkan konsistensi luar biasa di kompetisi yang biasanya dikuasai dua klub Glasgow. Sayangnya, semua itu berakhir pada laga pamungkas di Celtic Park yang berjalan dramatis dan menghancurkan peluang mereka.

Bloom tidak menyembunyikan rasa getirnya. Menurutnya, cara musim itu berakhir dalam situasi yang sulit dari sudut pandang Hearts “sangat mengecewakan bagi klub, dan juga bagi saya pribadi”. Ia menambahkan bahwa pada akhirnya semua pihak harus menerima apa yang sudah terjadi, meski tidak mungkin merasa senang dengan bagaimana semuanya berakhir.

Kekecewaan itu justru menunjukkan betapa dekat Hearts dengan trofi yang selama ini dianggap mustahil bagi klub di luar Old Firm. Mereka finis hanya dua poin di belakang Celtic yang keluar sebagai juara pada Mei lalu. Selisih sekecil itu membuat kegagalan terasa lebih menyakitkan, sekaligus memberi bukti bahwa jarak Hearts dengan puncak bukan lagi jurang yang tak terjembatani.

Rombak Besar di Tynecastle dan Awal Musim Vrancken

Selepas finis di posisi kedua, Hearts melakukan perombakan besar-besaran di Tynecastle. Pelatih kepala Derek McInnes pindah ke Rangers, dan kepindahannya diikuti oleh kapten tim Lawrence Shankland serta gelandang Cammy Devlin. Perubahan sebesar itu memaksa klub membangun ulang kerangka permainan dalam waktu singkat.

Kursi pelatih kini diisi Wouter Vrancken. Meski datang menjelang awal pramusim, dampaknya cukup terlihat, terutama di kandang. Hearts tercatat belum terkalahkan di liga saat bermain sebagai tuan rumah selama lebih dari satu tahun, dan saat ini menempati posisi ketiga di belakang dua klub Glasgow tersebut.

Bloom menilai proses pemulihan itu berjalan sesuai harapan. “Kami memulai dengan cukup baik, jadi kami harus tetap berharap dan optimistis menyambut sisa musim,” katanya. Ia mengakui bahwa situasi sangat sulit karena pelatih kepala baru datang nyaris tepat sebelum pramusim dimulai, tetapi menurutnya sebuah klub sepak bola harus mampu bangkit, dan itu harus dilakukan dengan cepat.

Ia juga menyoroti gelombang pemain baru yang didatangkan serta banyaknya hal yang masih bisa diperjuangkan Hearts musim ini. Bagi Bloom, kombinasi tersebut menjadi alasan kuat bagi para pendukung untuk menantikan sisa perjalanan musim dengan antusias.

Memutus Hegemoni Old Firm

Sejak keberhasilan Aberdeen pada 1985, gelar juara liga Skotlandia selalu jatuh ke tangan Celtic atau Rangers. Tidak ada klub lain yang mampu menyela dominasi tersebut, sebuah kenyataan yang menjelaskan mengapa ambisi Bloom terdengar ambisius sekaligus wajar dalam konteks sejarah kompetisi. Justru karena pola itu sudah berlangsung sangat lama, Bloom menyebutnya sebagai sesuatu yang perlu diganggu.

Meski demikian, Bloom optimistis Hearts berada di jalur yang tepat untuk memutus cengkeraman Old Firm. Keyakinan itu tidak hanya bersandar pada hasrat, tetapi pada rekam jejak klub yang mampu bersaing di papan atas dalam dua musim terakhir. Posisi ketiga saat ini, ditambah rekor tak terkalahkan di kandang, menjadi indikator bahwa fondasi tim sudah cukup kuat.

Yang menarik, Hearts menghadapi ujian berat berupa kunjungan ke markas Celtic pada hari Minggu. Laga semacam ini kerap menentukan apakah sebuah penantang benar-benar siap, atau hanya kuat saat bermain di kandang sendiri. Hasil pertandingan tersebut akan memberi gambaran lebih jelas tentang seberapa nyata peluang Hearts dalam perlombaan menuju puncak.

Apa Artinya bagi Hearts dan Liga Skotlandia

Bagi Hearts, pernyataan Bloom berfungsi sebagai kompas jangka panjang. Klub punya patokan waktu yang jelas, sumber daya dari pemilik yang berpengalaman di sepak bola Inggris, serta dukungan suporter yang sudah lama menunggu gelar. Namun kompas itu juga berarti tidak ada ruang untuk berlama-lama dalam masa transisi, karena setiap musim akan diukur dari seberapa dekat mereka dengan trofi.

Untuk kompetisi secara keseluruhan, kehadiran penantang yang konsisten bisa mengubah lanskap yang selama ini diprediksi sebelum bola digulirkan. Jika Hearts mampu mempertahankan level performa mereka, pertarungan gelar tidak lagi sekadar duel dua klub, dan nilai tonton liga berpotensi meningkat. Perubahan semacam ini biasanya datang perlahan, tetapi dimulai dari satu klub yang berani menetapkan target tinggi.

Di sisi lain, kepergian McInnes beserta sejumlah pemain inti ke Rangers menunjukkan bahwa keberhasilan Hearts justru menarik perhatian klub-klub besar. Tantangan terbesarnya bukan hanya mengejar Celtic, tetapi juga menjaga agar tim tidak terus kehilangan figur kunci setiap kali tampil impresif.

Kesimpulan

Ambisi Tony Bloom untuk membawa Hearts juara Scottish Premiership sebelum 2035 adalah janji yang jelas sekaligus menuntut pembuktian. Modal utamanya adalah musim lalu yang nyaris sempurna, di mana Hearts memimpin klasemen selama 250 hari dan hanya tertinggal dua poin di akhir perebutan gelar. Sayangnya, cerita itu berakhir pahit di Celtic Park, dan Bloom mengakui kekecewaan yang dirasakan klub maupun dirinya.

Kini Hearts berjalan dengan wajah baru di bawah Wouter Vrancken, belum terkalahkan di kandang lebih dari setahun, dan bertengger di posisi ketiga. Kendati dominasi Celtic dan Rangers sudah berlangsung sejak 1985, Bloom yakin pola itu bisa diganggu. Ujian-ujian berikutnya, terutama laga tandang melawan tim papan atas, akan menentukan apakah target sepuluh tahun itu benar-benar berada dalam jangkauan atau hanya menjadi harapan yang menunggu waktu.