Watford Tetap Pertahankan Alessio Dionisi di Tengah Krisis

Watford diperkirakan tetap menurunkan Alessio Dionisi sebagai pelatih kepala untuk laga Championship melawan Charlton Athletic di kandang pada Sabtu mendatang. Kabar itu dilaporkan BBC Three Counties Radio, hanya beberapa hari setelah The Hornets dihancurkan Cardiff dengan skor 5-1 di laga tandang Selasa malam.

Keputusan bertahan pada Alessio Dionisi menjadi perhatian besar karena Watford sedang berada di titik terburuk musim ini. Kekalahan tersebut membuat mereka menelan empat kekalahan beruntun di Championship dan kebobolan sembilan gol hanya dalam dua pertandingan terakhir. Posisi klub juga sudah jatuh ke zona degradasi, sehingga muncul pertanyaan besar soal masa depan sang pelatih asal Italia itu.

Watford Tetap Pertahankan Alessio Watford Tetap Pertahankan Alessio

Kekalahan 5-1 di Cardiff dan Runtuhnya Lini Pertahanan

Kekalahan di Cardiff menjadi puncak dari rentetan hasil buruk Watford belakangan ini. Gol-gol yang bersarang ke gawang mereka membuat rekor pertahanan klub terlihat sangat rapuh, terutama karena lima gol di Cardiff datang setelah mereka juga kebobolan empat gol saat menghadapi Burnley pada Sabtu sebelumnya. Dalam dua laga itu saja, Watford harus menerima kenyataan kebobolan sembilan kali tanpa mampu membalas secara sepadan.

Hasil tersebut secara langsung menyeret Watford ke zona degradasi Championship. Posisi itu jelas menambah tekanan, bukan hanya bagi para pemain, tetapi juga bagi Alessio Dionisi yang baru menjalani beberapa bulan pertamanya di klub. Empat kekalahan beruntun di liga menunjukkan masalah yang tidak sekadar soal satu pertandingan buruk, melainkan tren penampilan yang menurun.

Dalam sesi wawancara usai laga di Cardiff, Dionisi diminta menanggapi masa depannya bersama Watford. Ia mengaku enggan membahas topik tersebut karena merasa bukan dirinya yang berhak menjawab pertanyaan itu.

“Saya tidak menyukai pertanyaan ini karena mustahil bagi saya untuk menjawabnya,” kata Dionisi kepada BBC. “Saya mengurus tim di lapangan dan selama latihan – pertanyaan itu bukan untuk saya.”

Perjalanan Musim yang Berbalik Arah

Ironi dari situasi ini adalah Watford mengawali musim dengan performa yang cukup menjanjikan. Mereka melewati tiga pertandingan awal tanpa kekalahan, termasuk kemenangan pada laga pembuka melawan Southampton. Start seperti itu sempat memberi harapan bahwa klub bisa lebih stabil dibanding musim-musim sebelumnya.

Namun setelah itu, laju Watford justru tersendat tajam. Mereka hanya mampu meraih satu kemenangan lagi di Championship, yaitu ketika menghadapi Preston yang saat itu menduduki dasar klasemen. Sisanya berubah menjadi rangkaian hasil mengecewakan yang perlahan menyeret klub ke papan bawah.

Konteks kepegawaian klub menambah gambaran soal betapa cepatnya kursi pelatih berganti di Watford. Alessio Dionisi diangkat pada Juni, dan ia menjadi pelatih permanen ke-12 sejak berakhirnya musim 2020-21. Artinya, hampir setiap musim Watford berganti pelatih utama, sebuah pola yang kini coba dihentikan oleh manajemen.

Mengapa Watford Bertahan dengan Alessio Dionisi

Menurut editor olahraga BBC 3CR, Geoff Doyle, keputusan klub untuk mempertahankan Dionisi cukup mengejutkan bagi mereka yang menyaksikan langsung kekalahan di Cardiff. Ia menilai penampilan Watford dalam laga itu sangat buruk, terlebih setelah sebelumnya juga kalah 4-0 dari Burnley di kandang.

“Watford mengatakan mereka akan bertahan dengan Alessio Dionisi, dan itu agak mengejutkan bagi kami yang berada di Cardiff dan menyaksikan pertunjukan mengerikan itu, juga yang melihat pertandingan melawan Burnley pada Sabtu,” ujar Doyle. “Rasanya ia tidak akan bertahan karena penampilan-penampilan itu begitu buruk, tetapi tampaknya klub ingin mengubah siklus rotasi pelatih dan kebiasaan memecat bos secara terburu-buru.”

Pernyataan Doyle menyiratkan bahwa keputusan ini bukan semata soal hasil di lapangan, melainkan juga soal arah kebijakan klub. Watford dikenal sering berganti pelatih dalam waktu singkat, dan manajemen tampaknya mulai menyadari bahwa pola tersebut tidak menghasilkan stabilitas. Bertahan pada Dionisi bisa dibaca sebagai upaya memberi seorang pelatih waktu lebih panjang untuk memperbaiki keadaan.

Meski begitu, keputusan itu tetap membawa risiko. Jika hasil buruk berlanjut, tekanan akan semakin besar, dan kepercayaan terhadap proyek yang sedang dibangun bisa runtuh sebelum sempat berjalan.

Reaksi Suporter dan Posisi Pemilik Klub

Doyle juga menyoroti bagaimana keputusan ini kemungkinan diterima oleh para pendukung Watford. Menurutnya, bertahannya Dionisi belum tentu menenangkan suporter yang sudah kecewa dengan performa tim beberapa pekan terakhir.

“Apakah ini akan menenangkan para pendukung? Kemungkinan tidak,” tambah Doyle. “Gelombang dukungan justru mengarah pada sikap menentang pemilik klub (Gino Pozzo) dan cara klub ini dijalankan.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kritik tidak hanya tertuju pada kursi pelatih. Sorotan meluas ke kepemimpinan dan kebijakan klub secara keseluruhan, termasuk bagaimana keputusan sepak bola diambil di tingkat atas. Situasi ini membuat posisi Dionisi berada di persimpangan antara kebutuhan akan hasil jangka pendek dan keinginan klub untuk mengubah citra pengelolaannya.

Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya

Laga melawan Charlton Athletic di kandang pada Sabtu menjadi ujian langsung bagi keputusan klub mempertahankan Alessio Dionisi. Pertandingan itu bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga tentang apakah tim mampu menunjukkan perbaikan nyata setelah dua penampilan yang sangat mengecewakan. Menghadapi Charlton di depan pendukung sendiri memberi Watford kesempatan untuk sedikit meredakan ketegangan.

Dalam konteks Championship, klub-klub memang sering tergoda mengganti pelatih ketika hasil memburuk, karena persaingan di liga ini sangat ketat dan margin antartim tipis. Watford kini berada di posisi yang menuntut keseimbangan: memberi Dionisi ruang untuk bekerja, sekaligus memastikan tim tidak semakin dalam terpuruk di zona degradasi.

Jika tren buruk berlanjut, pertanyaan soal masa depan pelatih akan kembali muncul dengan cepat, terlepas dari niat klub mengubah siklus rotasi pelatih. Sebaliknya, hasil positif dalam beberapa laga berikutnya bisa menjadi dasar bagi manajemen untuk membuktikan bahwa keputusan mereka kali ini berbeda dari kebiasaan sebelumnya.

Kesimpulan

Watford memilih bertahan dengan Alessio Dionisi meski baru saja kalah 5-1 dari Cardiff dan menelan empat kekalahan beruntun di Championship. Keputusan ini menandai upaya klub menghentikan kebiasaan berganti pelatih secara terburu-buru, setelah Dionisi menjadi pelatih permanen ke-12 sejak musim 2020-21 berakhir.

Namun, jalan yang dipilih tidak mudah. Dengan posisi tim di zona degradasi dan gelombang kritik yang mengarah ke pemilik klub, Dionisi dan Watford sama-sama membutuhkan hasil nyata dalam waktu dekat. Laga melawan Charlton pada Sabtu akan menjadi indikasi awal apakah kesabaran klub kali ini akan membuahkan perbaikan atau justru memperpanjang krisis.